Kabupaten Tangerang — Semangat untuk terus bertumbuh di tengah keterbatasan ditunjukkan oleh Wiyono Ansil, penyandang disabilitas daksa dengan amputasi kaki kanan. Ia menjadi salah satu peserta Pelatihan Digital Live Selling yang diselenggarakan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa sebagai upaya membuka akses kewirausahaan digital bagi penyandang disabilitas.
Wiyono, warga Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, terpilih bersama 14 peserta lainnya mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di Kantor Institut Kemandirian, kawasan Islamic Village, Kabupaten Tangerang. Program ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan wirausaha digital, khususnya melalui praktik live selling sebagai strategi pemasaran di era digital.
Bagi Wiyono, pelatihan ini menjadi langkah penting dalam mengembangkan usaha yang telah ia rintis, Ansil Snack Stick Talas. Ia menilai live selling sebagai sarana efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan membangun interaksi langsung dengan konsumen.
“Pelatihan ini sangat penting bagi saya, terutama untuk belajar praktik live selling dan cara memasarkan produk secara langsung melalui platform digital,” ungkap Wiyono.

Ia menyadari bahwa tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam dunia kerja maupun usaha tidaklah mudah. Dibutuhkan usaha, ketekunan, dan mental yang lebih kuat. Namun, menurutnya, keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
“Setiap penyandang disabilitas punya daya juang, semangat, dan kreativitas. Kita juga punya masa depan,” tegasnya.
Lebih jauh, Wiyono berharap keberhasilan usahanya kelak dapat memberi dampak sosial yang lebih luas. Ia ingin mengajak sesama penyandang disabilitas untuk mandiri secara ekonomi melalui wirausaha dan membangun mental sebagai pelaku usaha.
“Kita harus punya mental pengusaha, bukan mental peminta. Penyandang disabilitas juga punya potensi dan nilai,” tambahnya.
Informasi mengenai pelatihan ini diperoleh Wiyono melalui komunitas penyandang disabilitas yang diikutinya. Dari sana, ia mendapatkan informasi pendaftaran hingga proses seleksi peserta.

Pelatihan Digital Live Selling ini merupakan hasil kolaborasi antara Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, Yayasan Indonesia Setara, dan Yayasan Difabel Mandiri Indonesia, dengan dukungan pendanaan dari Yayasan Indonesia Setara. Program ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam memperluas akses peningkatan kapasitas dan peluang ekonomi yang inklusif.
Wiyono pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membuka ruang belajar dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang di era digital.
“Pelatihan ini membantu kami meng-upgrade diri, menambah wawasan, dan membuka peluang usaha maupun pekerjaan digital,” pungkasnya.
Sumber: Diolah dari pemberitaan Edisi.co.id berjudul “Buktikan Disabilitas Bisa Sukses di Era Digital, Wiyono Ansil Ikuti Pelatihan Live Selling di Institut Kemandirian”.




