Tangerang — Keterampilan menghasilkan uang perlu berjalan beriringan dengan keterampilan mengelola uang. Semangat itulah yang dibawa Institut Kemandirian saat menggelar kelas literasi finansial bertajuk Merawat Kebun Rezeki bagi 27 peserta pelatihan pada Rabu (10/6).
Peserta berasal dari tiga program pelatihan, yakni Barber, Bright Migrant Worker, dan Menjahit. Selain dibekali hard skill sesuai bidang masing-masing selama dua pekan pelatihan, mereka juga mendapatkan pembekalan soft skill pengelolaan keuangan agar lebih siap menghadapi kehidupan dan dunia kerja.
Kelas Merawat Kebun Rezeki dibawakan oleh Setiawan Chogah, Instruktur, Personal Growth & Finance Storyteller, penulis, sekaligus Editor-in-Chief Techfin Insight.
Melalui pendekatan yang sederhana dan membumi, peserta diajak melihat uang layaknya air yang menghidupi sebuah kebun. Bukan semata soal seberapa banyak air yang masuk, tetapi bagaimana air tersebut mengalir, digunakan, dan dijaga agar tidak habis karena kebocoran yang tidak disadari.
“Banyak orang merasa penghasilannya kurang. Padahal sering kali masalahnya bukan pada sedikit atau banyaknya uang yang masuk, melainkan karena ada kebocoran-kebocoran kecil yang tidak pernah diperhatikan,” ujar Setiawan dalam sesi pelatihan.
Merawat Uang Seperti Merawat Kebun
Dalam kelas tersebut, peserta diajak memahami berbagai konsep dasar pengelolaan keuangan, mulai dari mengenali aliran uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, mengelola kebocoran pengeluaran, hingga membangun kebiasaan menabung dan dana cadangan.
Alih-alih menggunakan istilah keuangan yang rumit, materi disampaikan melalui metafora kebun yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Peserta diajak memahami bahwa uang yang tidak diperhatikan akan mudah habis tanpa arah. Sebaliknya, uang yang dirawat dengan baik dapat membantu seseorang menjalani hidup yang lebih tenang dan terencana.
Salah satu pesan yang paling banyak menarik perhatian peserta adalah pentingnya mencatat pemasukan dan pengeluaran.

“Petani tidak bisa merawat kebun yang tidak pernah ia lihat. Begitu juga dengan uang,” kata Setiawan.
Melalui contoh pencatatan sederhana, peserta diperkenalkan pada kebiasaan melihat ke mana uang mengalir sebelum mengambil keputusan-keputusan keuangan yang lebih besar.
Mengenal Konsep Lega Finansial
Selain membahas pengelolaan uang sehari-hari, peserta juga diperkenalkan pada konsep Lega Finansial, sebuah gagasan yang ditawarkan sebagai alternatif yang lebih membumi dibandingkan mimpi Financial Freedom yang sering terdengar jauh bagi sebagian orang.
Lega Finansial digambarkan sebagai kondisi ketika seseorang tidak lagi hidup dalam kecemasan terus-menerus mengenai uang. Kebutuhan dasar dapat terpenuhi, ada dana cadangan untuk keadaan darurat, serta masih tersedia ruang untuk menikmati hidup secara sehat dan bertanggung jawab.
“Tidak semua orang harus menjadi kaya raya. Namun semua orang berhak hidup lebih lega,” ujar Setiawan.
Membawa Pulang Keputusan Kecil
Di akhir sesi, peserta diminta menuliskan keputusan kecil yang ingin mereka lakukan setelah mengikuti kelas. Respons yang muncul menunjukkan bahwa materi yang disampaikan berhasil menyentuh persoalan nyata yang mereka hadapi sehari-hari.
Erna Wati, peserta pelatihan Menjahit, mengaku kelas tersebut mengingatkannya akan pentingnya perencanaan dan pencatatan keuangan keluarga.
“Mengikuti kelas ini mengingatkan saya bahwa kita perlu perencanaan, kendali, dan pencatatan dalam keuangan keluarga.”
Sementara itu, Saipul Bahari dari program Bright Migrant Worker menyebut materi yang disampaikan sangat membuka kesadarannya.
“Sangat menyadarkan saya.”
Ia juga berencana mulai mencatat setiap pengeluaran yang dilakukan.
Respons menarik datang dari Ahmad Rijal Al Infitar, peserta pelatihan Barber, yang merangkum pelajaran yang ia dapatkan dalam satu kalimat sederhana.
“Menambal kebocoran dan menambah selang.”
Bagi Abdurohman, peserta pelatihan Barber, langkah pertama yang ingin dilakukan adalah mencatat keluar-masuk uang dan mulai menabung untuk masa depan.
Sedangkan Al Ainaa Aulia dari pelatihan Menjahit berencana mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran serta memisahkan penghasilan ke dalam beberapa kategori agar lebih terarah.
Melalui kegiatan ini, Institut Kemandirian berharap para peserta tidak hanya memiliki keterampilan untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga kemampuan untuk mengelola hasil kerja mereka dengan lebih bijak.
Sebab pada akhirnya, keterampilan menghasilkan uang adalah bekal penting. Namun keterampilan merawat uang adalah kemampuan yang membantu seseorang bertahan dan bertumbuh dalam jangka panjang.
