Institut Kemandirian – Beberapa hari lalu saya mengisi kelas literasi finansial Merawat Kebun Rezeki untuk peserta pelatihan barber, menjahit, dan Bright Migrant Worker di Institut Kemandirian.
Di tengah sesi, saya mengajukan sebuah pertanyaan yang menurut saya cukup sederhana: jika kondisi keuangan kalian membaik, apa yang sebenarnya ingin kalian rasakan?
Saya memperkirakan akan mendengar jawaban tentang rumah besar, kendaraan impian, atau mungkin keinginan menjadi kaya.
Namun yang muncul justru berbeda. Ada yang ingin bisa membantu orang tua tanpa harus meminjam uang. Ada yang ingin memiliki dana darurat agar tidak panik ketika menghadapi keadaan mendesak. Ada yang ingin bisa tidur lebih tenang karena tidak lagi khawatir dengan tagihan yang datang setiap bulan.
Tidak ada yang berbicara tentang aset miliaran rupiah. Tidak ada yang menyebut pensiun di usia 40 tahun.
Dan dari situlah saya kembali menyadari bahwa apa yang dicari sebagian besar orang sebenarnya bukanlah kekayaan dalam arti yang sering kita lihat di media sosial. Mereka sedang mencari ketenangan.
Jawaban yang Tidak Saya Duga
Selama beberapa tahun terakhir, saya berkesempatan bertemu banyak orang melalui berbagai kelas literasi finansial. Latar belakang mereka beragam. Ada mahasiswa, pekerja, pelaku usaha kecil, hingga peserta pelatihan keterampilan seperti yang saya temui di Institut Kemandirian.
Menariknya, ketika diajak berbicara tentang masa depan, sebagian besar tidak pernah memulai dengan kalimat, “Saya ingin menjadi miliarder.”
Mereka lebih sering berbicara tentang kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka ingin memiliki tabungan. Mereka ingin tidak lagi berutang untuk kebutuhan mendadak. Mereka ingin memiliki sedikit ruang bernapas ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Saya melihat ada kesenjangan antara percakapan keuangan yang berkembang di internet dan realitas yang dihadapi banyak orang.
Di internet, pembahasan sering berpusat pada cara mempercepat pertumbuhan aset, strategi mencapai financial freedom, atau berbagai formula untuk pensiun dini.
Sementara di dunia nyata, banyak orang masih berusaha memastikan kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi dengan baik setiap bulan.

Bukan berarti salah satu lebih benar daripada yang lain. Namun saya semakin percaya bahwa literasi finansial perlu berangkat dari kebutuhan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan hanya dari tujuan ideal yang sering dipromosikan.
Obsesi Bernama Financial Freedom
Saya memahami mengapa financial freedom begitu populer. Konsep ini menawarkan sebuah janji yang menarik: hidup tanpa harus bekerja karena kebutuhan sudah dipenuhi oleh aset dan investasi. Bagi banyak orang, gagasan tersebut terdengar seperti puncak keberhasilan finansial.
Masalahnya, financial freedom sering kali dipahami sebagai tujuan yang sangat besar dan sangat jauh. Ketika seseorang yang masih berjuang menabung Rp500 ribu pertama dalam hidupnya membaca bahwa ia membutuhkan aset miliaran rupiah untuk mencapai kebebasan finansial, yang muncul tidak selalu motivasi. Kadang justru rasa tertinggal.
Kita hidup di zaman ketika kesuksesan finansial sering diukur dari angka. Semakin besar angkanya, semakin sukses seseorang dianggap. Akibatnya, banyak orang merasa kehidupan finansialnya gagal hanya karena belum mencapai standar yang dibuat orang lain.

Padahal kondisi keuangan setiap orang berbeda. Titik awalnya berbeda. Tanggung jawabnya berbeda. Kesempatan yang dimiliki juga berbeda. Menyamakan seluruh perjalanan finansial ke dalam satu tujuan besar sering kali membuat kita kehilangan konteks yang paling penting: kehidupan manusia tidak berjalan di jalur yang sama.
Karena itulah saya mulai mempertanyakan apakah financial freedom harus selalu menjadi tujuan utama dalam setiap percakapan tentang uang.
Lega Finansial: Tujuan yang Lebih Membumi
Dari berbagai pertemuan dengan masyarakat, saya kemudian menemukan satu istilah yang menurut saya lebih dekat dengan kebutuhan banyak orang, yaitu lega finansial.
Lega finansial bukan berarti seseorang berhenti bekerja. Bukan pula kondisi ketika seseorang memiliki kekayaan yang luar biasa. Lega finansial adalah keadaan ketika uang tidak lagi menjadi sumber kecemasan terbesar dalam hidupnya.
Seseorang yang lega secara finansial mungkin masih bekerja setiap hari. Namun ia memiliki kendali atas keuangannya. Ia tahu ke mana uangnya pergi. Ia memiliki dana cadangan ketika keadaan darurat datang. Ia tidak lagi hidup dari satu kepanikan ke kepanikan berikutnya.
Bagi saya, ukuran keberhasilan finansial tidak selalu harus dimulai dari besarnya aset yang dimiliki. Kadang ukuran yang lebih relevan adalah seberapa tenang seseorang menjalani hidupnya.
Apakah ia bisa menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus berutang?
Apakah ia memiliki tabungan meskipun jumlahnya belum besar?
Apakah ia dapat merencanakan masa depan tanpa terus-menerus dihantui rasa takut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kesehatan finansial yang sesungguhnya.
| Financial Freedom | Lega Finansial |
|---|---|
| Fokus pada kebebasan finansial penuh | Fokus pada ketenangan finansial |
| Umumnya tujuan jangka panjang | Bisa mulai dibangun hari ini |
| Ditopang aset dan investasi | Ditopang kebiasaan dan fondasi hidup |
| Tidak perlu bekerja | Tetap bekerja dengan tenang |
| Berorientasi hasil akhir | Berorientasi proses dan keberlanjutan |
Yang Perlu Dirawat Bukan Hanya Uangnya
Sebenarnya, gagasan seperti ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Dalam berbagai literatur keuangan internasional, kita mengenal istilah seperti financial well-being, financial wellness, financial security, bahkan financial comfort.
Masing-masing memiliki penekanan yang berbeda, tetapi umumnya berbicara tentang kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya, menghadapi risiko keuangan, serta menjalani kehidupan dengan tingkat stres finansial yang lebih rendah.
Namun semakin sering saya bertemu masyarakat melalui berbagai pelatihan dan kelas literasi finansial, semakin saya merasa bahwa banyak konsep tersebut masih terlalu berfokus pada kondisi uang seseorang.
Pembahasannya sering berkisar pada pendapatan, pengeluaran, tabungan, utang, investasi, atau aset yang dimiliki. Semua itu penting, tetapi menurut saya ada satu hal yang sering terlewat: uang tidak pernah berdiri sendiri.

Kemampuan seseorang untuk hidup tenang secara finansial tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang yang ada di rekeningnya. Ia juga dipengaruhi oleh kesehatan fisiknya, ketahanan mentalnya, keterampilannya dalam bekerja, kemampuannya menghasilkan pendapatan, kualitas keputusan yang ia ambil setiap hari, hingga lingkungan sosial yang mendukungnya.
Dengan kata lain, yang perlu dirawat bukan hanya uangnya, tetapi juga jalur yang membuat uang itu dapat terus hadir, tumbuh, terlindungi, dan memberi manfaat.
Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan konsep lega finansial yang saya gunakan dalam kelas Merawat Kebun Rezeki.
Saya tidak berusaha menciptakan teori baru, melainkan mencoba menerjemahkan berbagai gagasan tentang kesehatan finansial ke dalam bahasa yang lebih dekat dengan pengalaman masyarakat Indonesia.
Yang perlu dirawat bukan hanya uangnya, tetapi juga jalur yang membuat uang itu dapat terus hadir, tumbuh, terlindungi, dan memberi manfaat.”
Setiawan Chogah
Karena itu, selain berbicara tentang tabungan, dana darurat, investasi, dan pengelolaan utang, saya juga memasukkan kesehatan, keterampilan yang terus berkembang, kemampuan menghasilkan pendapatan, serta budaya berbagi melalui zakat dan sedekah sebagai bagian dari fondasi lega finansial.
Bagi saya, seseorang belum tentu bisa disebut sehat secara finansial hanya karena memiliki banyak uang.
Sebaliknya, seseorang yang masih bekerja setiap hari pun dapat dikatakan berada dalam kondisi yang lebih sehat apabila ia memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan yang terus berkembang, memiliki perlindungan terhadap risiko, mampu mengelola uangnya dengan baik, dan masih memiliki ruang untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Pelajaran dari Merawat Kebun Rezeki
Gagasan tentang lega finansial kemudian menjadi salah satu fondasi dalam Merawat Kebun Rezeki, sebuah kelas literasi finansial yang saya bangun dari berbagai percakapan dengan masyarakat selama beberapa tahun terakhir.
Kelas ini saya bawakan dalam berbagai format, baik pendampingan individu, pelatihan kelompok, seminar, maupun webinar.
Ketika Institut Kemandirian mengundang saya untuk mengisi salah satu sesi pembekalan peserta pelatihan, saya melihat ada kesamaan cara pandang yang menarik.

Institut Kemandirian tidak hanya mengajarkan keterampilan untuk mencari nafkah, tetapi juga berusaha membekali peserta dengan karakter dan soft skill yang akan mereka butuhkan setelah pelatihan berakhir.
Karena itulah, di antara materi seperti growth mindset, public speaking, dan service excellence, literasi finansial juga mendapat ruang sebagai bagian dari proses membangun kemandirian.
Di dalam kelas, saya selalu mengajak peserta melihat uang sebagai air yang menghidupi sebuah kebun. Analogi ini lahir dari pengamatan bahwa banyak orang terlalu fokus mencari lebih banyak air, tetapi lupa melihat kondisi kebunnya sendiri.
Mereka bekerja lebih keras untuk menambah penghasilan. Mereka mencari pekerjaan tambahan. Mereka mencoba berbagai peluang baru. Semua itu penting. Namun sering kali mereka tidak pernah benar-benar memperhatikan ke mana uang yang sudah mereka miliki mengalir.
Karena itu, ada satu kalimat yang selalu saya tampilkan dalam kelas:
Petani tidak bisa merawat kebun yang tidak pernah ia lihat. Begitu juga dengan uang.”
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan keuangan selalu dimulai dari perhatian. Sebelum berbicara tentang investasi, seseorang perlu memahami pengeluarannya. Sebelum berbicara tentang aset, seseorang perlu mengetahui kebiasaan keuangannya sendiri.

Banyak perubahan besar justru lahir dari langkah-langkah kecil yang sering dianggap sepele. Mencatat pengeluaran harian. Menyisihkan uang untuk tabungan. Mengurangi satu kebocoran kecil yang selama ini tidak disadari. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah yang perlahan membangun rasa aman.
Yang Dicari Sebenarnya Bukan Uang
Semakin lama saya belajar dan mengajar tentang keuangan, semakin saya percaya bahwa apa yang dicari manusia sebenarnya bukan uang.
Yang dicari adalah rasa aman.
Yang dicari adalah ketenangan.
Yang dicari adalah kemampuan untuk mengambil keputusan hidup tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan finansial.
Uang memang penting. Tidak ada yang bisa menyangkal hal itu. Namun uang hanyalah alat. Nilainya terletak pada kemampuan yang ia berikan kepada kita untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Karena itulah saya tidak melihat lega finansial sebagai pengganti financial freedom. Saya melihatnya sebagai tujuan yang lebih dekat, lebih realistis, dan lebih relevan bagi lebih banyak orang.
Mungkin suatu hari seseorang akan mencapai financial freedom. Itu tentu baik. Namun sebelum sampai ke sana, ada perjalanan yang perlu dilalui. Perjalanan itu dimulai dari kemampuan mengelola apa yang dimiliki hari ini, bukan dari membayangkan apa yang ingin dimiliki puluhan tahun kemudian.
Dan bagi saya, perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik selalu dimulai dari satu hal sederhana: belajar merawat rezeki yang sudah ada di tangan.
