Namanya Toha, pemuda berusia 23 tahun ini berasal dari Pandeglang. Setelah lulus sekolah dia mencoba merubah nasib dengan pergi ke Jakarta untuk mencari kerja. Setelah beberapa bulan di Jakarta, dia belum juga mendapatkan pekerjaan meskipun lamaran kerja sudah dikirimkan ke berbagai perusahaan. Bekal uang pun sudah mulai menipis, dari pada terlantar di Jakarta, akhirnya dia putuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Pandeglang.
Di desanya dengan terpaksa dia bekerja sebagai kuli muat kayu gelondongan. bertahun tahun bekerja sebagai kuli bangunan ia berharap suatu saat bisa menjadi sopir truk, karena menurutnya, pekerjaan sopir itu hanya duduk tapi bisa mendapatkan uang lebih banyak dibandingkan dengan para kuli muat kayu.
Berawal dari Informasi yang diberikan oleh saudaranya tentang pelatihan gratis di Tangerang. Bulan Desember 2012 dengan diantar oleh saudaranya tersebut dia berangkat dari Pandeglang menuju ke Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di bilangan Islamic Village Karawaci Tangerang untuk mendaftarkan diri sebagai peserta pelatihan. Saat itu pelatihan yang ingin diikuti Toha adalah pelatihan mengemudi namun karena pelatihan mengemudi belum dibuka akhirnya dia diberikan pilihan pelatihan yang sudah dibuka saat itu, dari berbagai pelatihan yang ditawarkan akhirnya memutuskan untuk mengikuti pelatihan teknisi handphone.
” Awalnya saya mau ikut pelatihan mengemudi karena sudah lelah menjadi kuli muat kayu, saat itu yang kebayang adalah ingin menjadi sopir truk pemuat kayu, akan tetapi karena saat itu pelatihan mengemudi belum dibuka akhirnya saya memilih mengikuti pelatihan teknisi handphone” tutur Toha.
Alhamdulillah setelah menyelesaikan pelatihan selama satu bulan, Toha di nyatakan lulus. Ia melanjutkan magang di usaha alumni Institut Kemandirina selama satu bulan untuk memperdalam skill yang dimiliki. Dengan tekun Toha belajar seluk beluk handphone dan belajar juga bagaimana mengelola konter.
Bermula dari modal awal sebesar dua ratus ribu rupiah, dia membeli peralatan sederhana berupa Obeng, solder, Mulitester dan Power Suply. dibangunya sebuah bilik untuk konter handphonenya di sebuah gang kecil. Toha memberanikan diri untuk membuka layanan servis handphone, yang diberi nama “Toha Cell” yang beralamat di Kampung Joglo Desa Harjawana Kecamatan Bojongmanik Pandeglang. Hampir setahun usahanya berjalan akhirnya bilik itu bisa berganti menjadi triplek. Toha pun semakin tekun dan gigih menjalani usaha yang Ia bangun dari modal terbatas tersebut.
Dengan menargetkan tiga tahun menyisihkan hasil dari jerih payahnya untuk bisa mengembangkan usaha, akhirnya Toha bisa mengganti triplek itu menjadi bangunan permanen dan berpindah ke pinggir jalan desa tepatnya disamping pos ronda. Setiap usaha memang membutuhkan ketekunan dan mental pantang menyerah. Saat usahanya semakin maju, ternyata tempat usahanya harus kena gusur pelebaran jalan belum lagi perjuangan nya kala itu ketika membeli spare part handphone ke Jakarta, Toha harus berangkat sepagi mungkin untuk naik kereta dan kembali ke Pandeglang sore hari artinya ia jalani dengan memakan waktu seharian penuh.
Menurutnya, tips untuk merawat pelanggan adalah dengan harus berlaku jujur.
“Awal saya merintis untuk menservis handphone, saya tak pernah mematok harga dan mengambil untung yang banyak, bagi saya yang terpenting saat itu adalah modal bisa kembali sambil terus membangun kepercayaan. Karena usaha jasa adalah soal membangun kepercayaan para pelanggan dengan kejujuran kita” ujar Toha.
Saat ini ia sudah bisa menghasilkan omset minimal satu juta perhari. Toha memiliki cita-cita untuk terus mengembangkan usaha konter handphonenya dengan membuka cabang diberbagai daerah sehingga bisa mengkaryakan adik adik kelasnya yang lulus dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, target berikutnya adalah saat umur 50 tahun sudah tidak servis handphone lagi melainkan hanya mengawasi para teknisi handphone yang bekerja di konternya.




