Institut Kemandirian – Saat beres-beres rumah, maka seseorang akan memilah mana barang yang masih bisa digunakan dan mana yang tidak. Sudah menjadi hal yang wajar, barang-barang yang sudah tidak berguna akan dibuang atau disimpan di gudang. Tentu, dalam pemilihan barang mana yang ingin tetap dipakai, aspek yang akan dipertimbangkan antara lain nilai, fungsi, manfaat, dan kondisi dari barang tersebut.
Prinsip yang sama berlaku dengan manusia. Dalam kehidupan ini, manusia bertransaksi untuk memberi dan mengambil manfaat satu sama lain. Di antara sesama manusia akan saling membutuhkan. Namun, seseorang pasti akan memilih siapa orang yang dia anggap bisa memberikan manfaat.
Sebagai contoh, bila ingin melakukan servis motor maka seseorang akan mencari mekanik. Artinya, untuk dibutuhkan orang yang ingin memperbaiki motornya, maka dia harus memiliki keahlian mekanik motor. Akan tetapi, tidak cukup dengan keahlian saja, boleh jadi orang tersebut juga akan memilih mekanik mana yang jujur dalam bekerja.
Bisa dilihat, bahwa untuk menjadi dibutuhkan atau bermanfaat dalam kehidupan ini, maka manusia harus memiliki nilai. Ibarat sebuah botol, maka tubuh manusia ini adalah botol kosong.
Sebuah botol akan dinilai dari isinya, menjadi berharga atau tidak, menjadi manfaat atau ancaman. Bila botol berisi madu maka akan berharga dan bermanfaat. Tapi sebaliknya bila berisi racun, maka akan menjadi ancaman.
Menjadi Pribadi Bernilai
Manusia pun seperti itu, bisa menjadi manfaat atau ancaman, bisa berguna atau justru menjadi beban. Lalu, bagaimana agar manusia bisa menjadi bernilai dan berguna?
Setidaknya ada tiga hal yang menjadi kunci utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan karakter.
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan pondasi dari nilai diri. Seseorang yang memiliki pengetahuan akan bernilai dan memberikan manfaat sesuai dengan pengetahuannya.
Seorang guru dihormati karena pengetahuannya, ulama disegani karena ilmunya, begitu pula dengan dokter, pengacara, dan berbagai profesi lainnya dicari oleh orang-orang yang membutuhkan karena keilmuannya.
Keterampilan
Keterampilan adalah kemampuan mengimplementasikan pengetahuan menjadi tindakan. Seseorang mungkin mengetahui teori mengendarai mobil setelah belajar dari menonton video, tetapi untuk bisa mengendarai mobil dia harus berlatih dan praktik hingga terampil.
Dalam dunia kerja, keterampilan menjadi pembeda antara orang yang hanya pintar teori dan orang yang mampu mengerjakan sehingga bisa menghasilkan kinerja. Orang yang tahu belum tentu terampil, tetapi orang yang terampil sudah pasti dia tahu.
Oleh karenanya, belajar pengetahuan harus diiringi dengan praktik secara berkelanjutan. Semakin tinggi jam terbang maka akan semakin terampil. Semakin terampil maka akan menjadi expert. Semakin expert seseorang dalam suatu bidang, maka nilainya semakin tinggi dan akan dicari banyak orang.
Orang yang tahu belum tentu terampil, tetapi orang yang terampil sudah pasti dia tahu.
M. Imam Baihaqi, Manajer Diklat & Operasional
Pengetahuan menjawab “apa dan mengapa”, sedangkan keterampilan menjawab pertanyaan “bagaimana”. Pengetahuan membuat seseorang menjadi pintar, keterampilan membuat seseorang menjadi ahli.
Karakter
Kalau pengetahuan dan keterampilan bisa membuat seseorang menjadi ahli sehingga bisa diterima orang yang membutuhkannya, maka karakter membuat seseorang bisa dipercaya. Pengetahuan dan keterampilan ibarat jasad, karakter adalah ruhnya.
Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, pantang menyerah, memegang amanah, rendah hati, kepedulian, komitmen, dan taat beragama adalah karakter yang mengiringi keahlian seseorang.
Kepintaran dan keahlian seseorang akan membawa manfaat bila memiliki karakter. Namun, kepintaran dan keahlian tanpa karakter akan menjadi masalah dan kerugian baik bagi diri maupun lingkungannya.
Sebagai contoh, pintar dan ahli tapi korupsi maka keberadaannya akan merugikan. Ketiadaan karakter seperti mau menang sendiri, emosi yang tak terkendali, malas, manipulasi data, suka berbohong, mengadu domba, perbuatan asusila, itu semua akan menurunkan nilai kepintaran dan keahlian yang sudah dibangun, atau bahkan bisa menghancurkannya.
Pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh ketaatan seseorang dalam beragama. Orang beriman tidak hanya mengejar keberhasilan ataupun kekayaan, tetapi juga keberkahan. Dia tidak hanya mengejar keuntungan tapi harus melihat benar atau salah, halal atau haram, maslahat atau mudarat.
Bicara karakter maka bicara reputasi. Bicara reputasi maka bicara kepercayaan. Sekali orang hilang kepercayaan maka akan sangat sulit untuk mengembalikannya. Maka, untuk bisa diterima dan dipercaya, tidak cukup dengan pintar dan ahli, tapi harus juga memiliki karakter.
Semakin Lengkap, Semakin Bernilai
Pengetahuan, keterampilan, dan karakter, ketiganya saling melengkapi. Orang yang memiliki pengetahuan tapi tidak memiliki keterampilan, ibarat agama yang tidak diamalkan, tidak menjadi amal saleh.
Orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tapi minim karakter, dia akan menjadi ancaman karena kemampuannya digunakan tanpa kendali moral.
Sebaliknya, orang yang memiliki karakter tapi tidak mau belajar dan melatih kemampuannya, maka dia hanya akan menjadi orang baik, tapi kesulitan untuk memberikan manfaat dan kontribusi.
Nilai tertinggi adalah saat ketiga aspek tersebut bertemu.
- Pengetahuan membangun kompetensi.
- Keterampilan menghasilkan kinerja.
- Karakter membangun kepercayaan.
Memiliki satu aspek akan membuat seseorang bernilai. Memiliki dua aspek akan menambah nilainya. Akan tetapi, bila ketiganya dimiliki dan berkembang secara seimbang maka dia akan menjadi pribadi yang sangat berharga dan bermanfaat baik bagi keluarga, organisasi, perusahaan, masyarakat, bahkan bangsa dan negaranya.
Yang paling celaka adalah bila tidak memiliki ketiganya. Sudahlah bodoh, tidak punya keterampilan, buruk pula sikapnya. Biasanya orang semacam ini akan menjadi sampah masyarakat dan tidak diinginkan keberadaannya.
Investasi Terbaik dengan Meningkatkan Nilai Diri
Banyak orang ingin dihargai, dihormati, dibutuhkan, dan diakui. Padahal kalau disadari, semua hal itu adalah akibat. Yang perlu dilakukan adalah fokus pada peningkatan nilai diri dengan cara belajar, mengasah keterampilan, dan membangun karakter.
Ketika nilai diri meningkat, insyaallah kesempatan akan datang, kehormatan didapat, dan kepercayaan akan tumbuh. Dan yang terpenting, keberadaan kita akan menjadi manfaat bagi orang lain, seperti sabda Nabi, “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Nilai diri dibangun oleh pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Ketika ketiganya dijalankan secara konsisten, lahirlah reputasi. Dan reputasi yang baik adalah tiket untuk membuka pintu peluang dalam kehidupan.
