Buka Bengkel Sepeda Motor di Pedesaan, Aman: Ramai Saat Musim Panen Tiba

INSTITUTKEMANDIRIAN.ORG – Berani memulai usaha bukanlah hal mudah. Apalagi di pedesaan yang jauh dari kota.

Hal itu dirasakan Alumni Institut Kemandirian Aman yang berasa dari Cikeusik, Pandeglang.

Aman yang merupakan alumni Institut Kemandirian tahun 2014 lalu baru memiliki keberanian membuka usaha bengkel sepeda motor pada tahun 2018.

Bermodalkan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan Institut Kemandirian di Karawaci, Tangerang, bengkel sepeda motornya masih berjalan hingga saat ini.

Ia mengaku, saat ini bengkel sepeda motor yang berdiri tiga tahun lalu itu menjadi mata pencarian utamanya.

“Alhamdulillah sudah bisa menghidupkan orang-orang, meskipun tidak besar. Tapi cukup untuk sehari-hari,” kata Aman.

“Kalau bengkel di kampung tidak bisa dihitung per hari penghasilannya. Tapi, hitungannya setiap bulan harus belanja sekian. Alhamdulillah setiap bulan rata-rata Rp1,5 juta dapat,” tambahnya.

Berbeda dengan di perkotaan, kata dia, bengkel sepeda motor di pedesaan ramai pengunjung saat musim panen tiba. Karena, warga bersiap menggunakan sepeda motornya untuk mengangkut padi dari sawah.

“Warga kan mengangkut padi (Ngunjal) pakai motor. Jadi banyak tuh yang ganti ban, ganti oli atau bongkar mesin pas musim panen,” ucapnya.

Meski pendapatannya dari bengkel sepeda motor tidak stabil, Aman mengaku sangat berterima kasih atas pelatihan yang diterima dari Institut Kemandirian. Karena, dari pelatihan itu ia bisa mandiri dan berani memulai usaha.

“Awalnya saya ngerti dikit-dikit saja, soalnya waktu sekolah sering main di bengkel,” ujarnya.

Ia berpesan kepada alumni-alumni baru Institut Kemandirian yang baru membuka usaha, agar menjadikan pekerjaan sebagai hobi. Sehingga, menjauhkan dari kata putus asa.

“Kalau hobi kan tetap asyik saja meskipun ramai atau tidak usaha kita, tapi kalau yang dipikirkan hasilnya saja, susah,” ujarnya.***

Bagikan konten ini: