Memilih Profesi Pangkas Rambut Sebagai Investasi Masa Tua

Alumni Institut Kemandirian Suparlan

INSTITUTKEMANDIRIAN.ORG – Suparlan (44) warga Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang yang memilih menjadi pemangkas rambut sebagai investasi masa tua.

Suparlan membuka pangkas rambut ‘Bintang Cukur Barbershop’ di kediamannya setelah mengikuti pelatihan keterampilan di Institut Kemandirian.

Ayah satu anak itu awalnya bekerja di berbagai perusahaan sebagai karyawan hingga menjadi sekuriti di Hotel Agrowisata, Batu.

Alumni Institut Kemandirian Suparlan saat memangkas rambut pelanggan

Namun, ia mengalami kejenuhan bekerja sebagai karyawan. Ia kemudian mencoba peruntungan terjun sebagai pemandu wisata (guide) di berbagai tempat wisata.

Selain itu, ia juga menekuni sebagai Trainer Outbond. Meskipun, tidak memiliki penghasilan tetap.

“Penghasilannya tergantung saya dapat job,” kata Suparlan.

Pekerjaan sebagai Trainer Outbond, ucap dia, hanya ada saat akhir pekan saja. Sehingga, ia mengisi kegiatan sehari-hari dengan bertani.

Pria yang juga aktif di berbagai lembaga sosial dan keagamaan ini akhirnya mendapat informasi adanya pelatihan keterampilan Institut Kemandirian dari temannya di Ansor NU.

Secara kebetulan, ia sendiri memiliki minat untuk memperdalam ilmu pangkas rambut yang selama ini cukup dikuasainya secara autodidak.

“Sebenarnya sudah punya rencana lama ingin sekolah pangkas rambut, tapi ya itu biayanya Rp1,5 juta sebulan, masuknya seminggu dua kali,” ucapnya.

Akhirnya, Suparlan memilih ikut pelatihan di Institut Kemandirian dan mendapat semangat kembali untuk membuka pangkas rambut di rumahnya.

Meskipun, pangkas rambutnya hanya buka sejak pukul 16.00 – 20.00 WIB. Hal itu disesuaikan dengan kesibukan warga yang mayoritas sebagai petani dan peternak.

“Memang kalau kita buka di desa kaya gini, itu tak bisa kaya di pasar. Makanya bukanya sore,” ujarnya.

Saat ini, ujar dia, dalam sehari paling sedikit masih ada sekitar tiga orang yang datang ke pangkas rambutnya, ia sendiri memasang harga Rp10 ribu untuk satu kali pangkas.

Hasil dari pangkas rambut, kata Suparlan, sudah sangat mencukupi kebutuhan anaknya yang hanya semata wayang. Apalagi, istrinya juga ikut bekerja.

Namun, yang paling penting bagi Suparlan, pangkas rambut dan bertani merupakan investasinya di masa tua.

Sebab, di usia yang sudah kepala empat, ia tidak mungkin lagi bisa bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

“Intinya gini, karna saya gak punya pekerjaan tetap, kalau sekarang cari kerja di luar jelas susah. Makanya aku punya pemikiran bagaimana aku punya pekerjaan sampai tua bisa aku kerjakan,” tuturnya.

Suparlan sendiri mengaku sangat berterimakasih kepada Institut Kemandirian yang sudah memberikan pelatihan keterampilan secara gratis.

Sebab, pasca mengikuti pelatihan, selain ia memiliki tambahan ilmu juga mempunyai semangat berlipat untuk membuka usaha.

“Setelah ikut pelatihan saya semakin semangat, punya keberanian buat buka pangkas rambut,” ujarnya.

Suparlan juga turut menggunakan media sosial sebagai alat promosi serta membagikan sticker menarik kepada pelanggannya, terutama untuk menarik pelanggan dari luar desa.***

Bagikan konten ini: