Institut Kemandirian — Ada yang membuat saya heran beberapa waktu lalu ketika mengambil rapor anak saya yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar di sebuah sekolah swasta. Nilainya bagus semua, padahal saya tahu masih ada beberapa mata pelajaran yang menjadi kelemahannya.
“Maaf, Bu. Nilai anak saya kok bagus semua, ya?” tanya saya. Bukan karena saya mencurigai nilai yang diberikan, tetapi karena saya ingin memastikan bahwa nilai tersebut benar-benar menggambarkan kemampuan anak saya.
“Maksudnya bagaimana, Pak?” tanya guru anak saya.
Mungkin, pertanyaan saya terdengar tidak biasa. Bukankah orang tua biasanya senang ketika melihat nilai anaknya bagus?
“Anak saya kan masih ada beberapa mata pelajaran yang lemah. Tapi ini kok nilainya bagus-bagus semua?”
Guru tersebut kemudian menjawab, “Sekarang memang begitu, Pak. Untuk menjaga akreditasi sekolah, dan sekarang juga tidak boleh ada siswa yang tidak naik kelas.”
Saya cukup kaget mendengar jawaban tersebut.
Alih-alih merasa senang melihat nilai rapor anak yang bagus, kami sebagai orang tua justru merasa gelisah dan prihatin. Sebab, nilai yang tertera di rapor tidak sepenuhnya mencerminkan apa yang kami ketahui tentang kemampuan anak.
Mendengar jawaban tersebut, saya menyampaikan kepada guru bahwa menurut saya seharusnya nilai diberikan apa adanya. Dengan begitu, anak dan orang tua dapat mengetahui mata pelajaran mana yang sudah dikuasai dan mana yang masih perlu diperbaiki.
Guru tersebut hanya tersenyum.
Percakapan singkat itu kemudian terus terngiang di pikiran saya.
Kilas Balik saat Anak Bersekolah di Hong Kong
Sebelumnya, anak-anak saya sempat bersekolah di Hong Kong. Ketika kembali ke Indonesia, alhamdulillah mereka masih dapat diterima di salah satu sekolah swasta meskipun masuk di pertengahan tahun ajaran.
Ada satu hal yang cukup berbeda dari pengalaman kami ketika anak-anak bersekolah di Hong Kong: nilai diberikan apa adanya.
Tidak ditambahkan hanya agar terlihat bagus, dan tidak pula dikurangi tanpa alasan. Guru memberikan penilaian berdasarkan capaian belajar anak.
Di sana, nilai rapor diberikan dalam bentuk huruf, mulai dari A hingga F. Karena pada awalnya anak masih mengalami kendala bahasa Kanton/Mandarin, ia pernah mendapatkan nilai E.
Sebagai orang tua, tentu melihat nilai E bukan sesuatu yang menyenangkan.
Namun, mendapatkan nilai rendah bukanlah sesuatu yang memalukan. Guru menjelaskan kondisi tersebut kepada orang tua dengan baik sehingga kami mengetahui kemampuan anak secara lebih objektif.
Dari situlah kami dapat mengetahui:
- mata pelajaran mana yang perlu ditingkatkan;
- kemampuan apa yang masih kurang;
- bagaimana kami sebagai orang tua harus mendampingi anak belajar.
Rapor benar-benar menjadi alat evaluasi, bukan sekadar kumpulan angka atau huruf yang membuat orang tua merasa bangga.
Dan bagi saya, justru di situlah fungsi rapor yang sebenarnya.
Apakah Fenomena Ini Memang Terjadi di Indonesia?
Sepulang dari mengambil rapor, saya mulai bertanya-tanya: apakah praktik menaikkan nilai rapor seperti yang saya alami merupakan sesuatu yang umum terjadi di Indonesia?
Ternyata persoalan mengenai objektivitas nilai rapor memang pernah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Beliau bahkan menggunakan istilah “sedekah nilai”.
Dalam sebuah pernyataan beliau yang saya baca di media, Abdul Mu’ti menyoroti adanya guru yang memberikan nilai lebih tinggi daripada kemampuan sebenarnya dengan tujuan tertentu.
Beliau memberikan ilustrasi bahwa seorang siswa yang seharusnya memperoleh nilai 6 bisa saja kemudian diberikan nilai 9.
Persoalan ini menjadi perhatian serius karena nilai rapor tidak hanya menjadi catatan perkembangan belajar siswa. Dalam kondisi tertentu, nilai rapor juga dapat digunakan dalam proses seleksi pendidikan.
Apa akibatnya bagi anak jika nilai yang diterimanya tidak menggambarkan kemampuan yang sebenarnya?
Bahkan pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan melakukan langkah untuk mengantisipasi potensi mark-up nilai rapor dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), antara lain melalui penggunaan e-Rapor dan penarikan data nilai dari sistem tersebut.
Artinya, persoalan objektivitas nilai rapor bukan sekadar keresahan seorang orang tua. Pemerintah pun melihat adanya potensi persoalan yang perlu diantisipasi.
Tetapi pertanyaannya kemudian bukan hanya: Mengapa nilai dinaikkan?
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa akibatnya bagi anak jika nilai yang diterimanya tidak menggambarkan kemampuan yang sebenarnya?
Dampak Negatif yang Jarang Disadari
Saya kemudian berpikir, apakah semua orang tua akan berpikir seperti saya?
Mungkin banyak orang tua justru merasa senang ketika melihat nilai anaknya bagus.
Dan itu sangat manusiawi.
Siapa yang tidak bangga melihat anak mendapatkan nilai 90 atau 95?
Tetapi persoalannya menjadi berbeda jika nilai tersebut tidak benar-benar mencerminkan kemampuan anak.
1. Orang tua kehilangan peta kemampuan anak
Rapor seharusnya menjadi salah satu alat bagi orang tua untuk mengetahui perkembangan anak.
Jika semua nilai terlihat bagus, padahal masih ada kompetensi yang belum dikuasai, orang tua kehilangan informasi penting.
Akibatnya, orang tua tidak tahu bagian mana yang harus dibantu.
2. Anak merasa sudah mampu
Ini yang menurut saya lebih berbahaya.
Ketika seorang anak terus mendapatkan nilai tinggi, ia bisa merasa bahwa dirinya sudah menguasai pelajaran tersebut.
Padahal mungkin masih ada banyak konsep dasar yang belum dipahami.
Akhirnya muncul pola pikir: “Nilai saya sudah bagus. Berarti saya sudah bisa.”
Padahal nilai yang tinggi belum tentu sama dengan kemampuan yang tinggi.
3. Guru berikutnya bisa salah memetakan kemampuan siswa
Guru SMP bisa mengira siswa sudah menguasai materi SD karena nilai rapornya bagus.
Guru SMA kemudian mengira siswa sudah menguasai materi SMP.
Padahal bisa saja masih ada fondasi pengetahuan yang belum kuat.
Akibatnya, kelemahan yang seharusnya diperbaiki sejak dini justru terbawa ke jenjang pendidikan berikutnya.
Mungkin inilah salah satu hal yang patut kita renungkan ketika melihat masih ada anak SMP atau SMA yang mengalami kesulitan dalam hitung-hitungan dasar.
Tentu, kesulitan matematika tidak semata-mata disebabkan oleh praktik pemberian nilai yang tidak objektif. Ada banyak faktor lain yang memengaruhinya.
Tetapi kita patut bertanya: Apakah mungkin salah satu penyebabnya adalah karena sejak awal kita tidak memberikan informasi yang jujur mengenai kemampuan anak?
Nilai yang jujur adalah bentuk pendidikan
Pendidikan bukan sekadar tentang mendapatkan nilai tinggi.
Pendidikan adalah proses menanamkan pengetahuan, membangun pola pikir, membentuk karakter, dan mengembangkan kemampuan.
Angka di rapor bisa saja ditulis menjadi 90 atau 95.
Tetapi angka tersebut tidak otomatis membuat kemampuan anak berubah.
Karena yang paling penting bukan angkanya, melainkan kompetensinya.
Kalau anak memang mendapatkan nilai 60, maka berikanlah nilai 60 dan bantu dia agar kelak bisa menjadi 70, kemudian 80, dan seterusnya.
Di situlah sebenarnya proses pendidikan berlangsung.
Kejujuran dalam memberikan nilai memberikan informasi yang tepat kepada anak, orang tua, dan guru.
Rapor bukan bertujuan untuk membuat orang tua bangga.
Rapor juga bukan untuk membuat sekolah terlihat hebat.
Rapor seharusnya memberikan gambaran yang jujur tentang perkembangan belajar anak.
Kasihan kepada Anak, Benarkah dengan Menaikkan Nilainya?
Mungkin ada guru yang menaikkan nilai karena kasihan kepada anak.
Tidak tega memberikan nilai rendah.
Tidak ingin anak kecewa.
Tidak ingin anak merasa gagal.
Niatnya mungkin baik.
Tetapi kita perlu bertanya: Benarkah menaikkan nilai adalah bentuk kasih sayang kepada anak?
Saya justru berpikir sebaliknya.
Jika seorang anak belum mampu tetapi kita memberinya nilai tinggi, kita mungkin sedang membuat anak merasa nyaman hari ini, tetapi sekaligus mengambil kesempatan baginya untuk mengetahui kelemahannya.
Nilai rendah mungkin membuat anak kecewa.
Tetapi kekecewaan itu bisa menjadi awal untuk belajar.
Sebaliknya, nilai tinggi yang tidak sesuai dengan kemampuan bisa membuat anak merasa sudah berhasil, padahal sebenarnya masih banyak yang harus diperbaiki.
Kasihan yang sesungguhnya bukan memberikan nilai tinggi kepada anak yang belum mampu.
Kasihan yang sesungguhnya adalah membantu anak mengetahui kelemahannya sejak dini, kemudian mendampinginya sampai benar-benar mampu.
Karena tujuan pendidikan bukan membuat anak selalu merasa berhasil.
Tujuan pendidikan adalah membuat anak benar-benar berkembang.
Ketika Budaya “Yang Penting Dapat” Terbawa ke Kehidupan
Ada persoalan yang lebih besar lagi.
Bayangkan jika sejak kecil seseorang terbiasa mendapatkan pengakuan tanpa benar-benar memiliki kompetensi yang sesuai.
Apa yang terjadi ketika pola tersebut terbawa sampai dewasa?
Di sekolah:
Yang penting naik kelas.
Kemudian:
Yang penting lulus.
Yang penting dapat ijazah.
Yang penting dapat sertifikat.
Yang penting diterima kerja.
Yang penting dapat jabatan.
Proses untuk mencapai kemampuan menjadi tidak terlalu penting karena yang dikejar adalah hasil akhirnya.
Padahal dalam kehidupan nyata, pengakuan tidak selalu sama dengan kompetensi.
Seseorang bisa memiliki ijazah, tetapi belum tentu menguasai semua kemampuan yang dibutuhkan pekerjaan.
Seseorang bisa memiliki sertifikat, tetapi sertifikat seharusnya tetap dibangun di atas kompetensi yang benar-benar dimiliki.
Bayangkan jika prinsip “sedekah nilai” dibawa ke berbagai bidang.
Seseorang mendapatkan izin mengemudi tanpa benar-benar memenuhi kemampuan yang dipersyaratkan.
Seorang teknisi mendapatkan sertifikat kompetensi, tetapi belum benar-benar menguasai pekerjaannya.
Seorang mekanik belum memahami sistem pengereman dengan baik, tetapi tetap dinyatakan kompeten.
Seorang operator alat berat belum benar-benar menguasai prosedur keselamatan, tetapi tetap dianggap lulus.
Masalahnya kemudian bukan lagi sekadar angka di rapor.
Ketidakmampuan yang tidak terdeteksi dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.
Di dunia kerja, seseorang tidak dibayar karena nilai rapornya 90.
Ia dibayar karena mampu melakukan pekerjaannya.
Karena itu, ketika pengakuan diberikan tanpa kompetensi yang memadai, kita sebenarnya sedang membangun sebuah ilusi:
seolah-olah mampu, padahal belum mampu.
Ketika Kejujuran Menjadi Tidak Adil
Ada satu persoalan lain yang tidak kalah penting.
Bagaimana dengan anak yang benar-benar belajar keras?
Misalnya seorang anak mendapatkan nilai 82 karena memang itulah hasil kemampuannya.
Sementara anak lain yang kemampuannya sebenarnya masih di bawah itu mendapatkan nilai 90 karena nilainya dinaikkan.
Jika nilai tersebut kemudian digunakan dalam suatu proses seleksi, anak yang memperoleh nilai lebih tinggi bisa mendapatkan keuntungan.
Di sinilah persoalannya bukan lagi sekadar tentang kejujuran.
Tetapi juga tentang keadilan.
Anak yang berusaha mencapai kompetensi seharusnya tidak kalah hanya karena sistem memberikan angka yang lebih tinggi kepada anak yang sebenarnya belum mencapai kemampuan tersebut.
Apa yang Sedang Kita Ajarkan kepada Anak?
Pada akhirnya saya kembali kepada percakapan singkat ketika mengambil rapor itu.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan kepada anak-anak?
Apakah kita sedang mengajarkan:
“Kalau belum mampu, belajarlah sampai mampu.”
Atau justru:
“Kalau belum mampu, tidak apa-apa. Yang penting nilainya bagus.”
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya akan menentukan karakter anak-anak kita di masa depan.
Karena kebiasaan kecil yang ditanamkan sejak sekolah bisa terbawa ke kehidupan mereka ketika dewasa.
Belum mampu, tetapi ingin mendapatkan sertifikat.
Belum kompeten, tetapi ingin mendapatkan pekerjaan.
Belum siap, tetapi ingin mendapatkan jabatan.
Akhirnya kita berisiko membangun masyarakat yang penuh dengan pengakuan, tetapi miskin kompetensi.
Saya Tidak Membutuhkan Rapor yang Indah
Sebagai orang tua, saya tidak berharap anak saya mendapatkan nilai tinggi di semua mata pelajaran.
Saya justru berharap mendapatkan nilai yang jujur.
Jika matematika anak saya memang 65, katakanlah 65.
Jika bahasa Inggrisnya 80, katakanlah 80.
Jika ada yang nilainya rendah, beri tahu kami.
Dengan begitu, kami tahu apa yang harus diperbaiki.
Saya lebih memilih anak mendapatkan nilai 65 tetapi benar-benar memahami apa yang harus diperbaiki, daripada mendapatkan nilai 90 tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya masih memiliki kelemahan.
Karena mungkin… nilai yang jujur akan mengecewakan hari ini, tetapi dapat menyelamatkan masa depan.
Sebaliknya, nilai yang dimanipulasi mungkin membanggakan hari ini, tetapi bisa menyesatkan anak di kemudian hari.
Pendidikan bukan tentang membuat rapor terlihat indah.
Pendidikan adalah keberanian untuk menunjukkan kondisi yang sebenarnya, agar anak tahu di mana dirinya berada dan terus berusaha menjadi lebih baik.
Saya tidak berharap anak saya mendapatkan nilai yang tinggi.
Saya hanya berharap anak saya mendapatkan nilai yang jujur.
