Kisah Ali Ajiz adalah cerita tentang perjuangan seorang anak muda yang belajar mandiri sejak usia dini. Berbekal pengalaman hidup yang tidak mudah, Ali terus berusaha mencari jalan untuk mendapatkan pekerjaan dan membangun masa depan yang lebih baik . Berbagai pekerjaan pernah dijalani, mulai dari berjualan gorengan, membantu pekerjaan bangunan, hingga bekerja di restoran.
Kini, di usia 21 tahun, pemuda asal Sukabumi ini telah bekerja sebagai security di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Ia menjalani pekerjaan dengan sistem kerja 12 jam sambil menabung untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah alumni Institut Kemandirian yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Kisah Ali Ajiz: Tumbuh dengan Perjuangan
Ali kehilangan ibunya ketika berusia sekitar dua tahun. Setelah itu, ia sempat berpindah dari satu keluarga ke keluarga lainnya sebelum akhirnya diasuh oleh kakaknya. Sejak saat itu, sang kakak menjadi sosok yang mendampingi Ali hingga tumbuh besar.
Sejak duduk di bangku SD, Ali sudah terbiasa membantu mencari penghasilan. Ia pernah membantu berjualan gorengan sebelum berangkat sekolah. Saat SMP, ia juga sempat menjadi juru parkir di pasar untuk menambah uang jajan dan kebutuhan sekolah.
Ketika pandemi COVID-19 terjadi, keadaan semakin sulit. Pekerjaan bangunan yang sebelumnya ia lakukan ikut terdampak. Namun, Ali tetap berusaha menyelesaikan pendidikan. Di tengah keterbatasan, ia bahkan mampu mempertahankan prestasi akademiknya dan beberapa kali masuk tiga besar di sekolah.
Memasuki SMA, Ali kembali bekerja. Sepulang sekolah, ia membantu di restoran hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Setelah lulus, Ali ingin segera bekerja. Dengan modal Rp200 ribu, ia berangkat dari kampung menuju Jakarta. Namun, setibanya di Jakarta, ia justru menjadi korban penipuan.
Dalam kondisi tidak memiliki banyak uang, ia tetap berusaha bertahan. Saat kesulitan mendapatkan makanan, Ali memilih mendatangi warung makan dan menyampaikan kondisinya dengan jujur. Ia menawarkan bantuan mencuci piring sebagai imbalan makanan.
“Saya bilang jujur dulu saja. Masalah dikasih atau enggaknya, itu nanti,” cerita Ali.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Ali kembali mencari pekerjaan dan sempat bekerja di gudang, Bandung, hingga Tangerang. Ketika kontraknya berakhir, ia kembali menganggur. Selama berbulan-bulan, Ali mencari pekerjaan secara daring maupun langsung di berbagai wilayah Jabodetabek. Namun, belum ada pekerjaan yang sesuai.
Di tengah kondisi tersebut, sebuah kesempatan datang melalui Institut Kemandirian.

Saat Allah Membuka Jalan melalui Institut Kemandirian
Di tengah pencarian pekerjaan yang tidak kunjung membuahkan hasil, kisah Ali Aziz kemudian memasuki babak baru ketika ia mendapat informasi tentang pelatihan di Institut Kemandirian. Pengalaman menjadi korban penipuan membuatnya lebih berhati-hati. Namun, ia memilih mencoba. Dengan modal sekitar Rp20 ribu, Ali berangkat dari kampung menuju Tangerang untuk mengikuti Pelatihan Security di Institut Kemandirian.
Baginya, keputusan tersebut menjadi salah satu jalan yang Allah bukakan setelah perjalanan panjang mencari pekerjaan. Selama mengikuti pelatihan, Ali tidak hanya mendapatkan keterampilan untuk memasuki dunia kerja. Ia juga merasakan pembinaan, kedisiplinan, kebersamaan, serta lingkungan yang menurutnya memberikan pengalaman berbeda.
“Bersyukur banget, melalui Institut Kemandirian, Allah memberikan jalan dan pertolongan untuk saya,” ungkap Ali.
Pengalaman tersebut membuat Ali memiliki kesan mendalam terhadap Institut Kemandirian. Bahkan setelah menyelesaikan pelatihan, ia tetap membagikan informasi mengenai program pelatihan kepada teman-temannya di kampung.
Dari Pelatihan Menuju Dunia Kerja
Setelah menyelesaikan pelatihan, kesempatan kerja datang. Kini, Ali bekerja sebagai security di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Dengan sistem kerja 12 jam, kesehariannya banyak dihabiskan untuk bekerja dan beristirahat. Meski demikian, Ali tidak ingin berhenti pada pencapaian hari ini.
Ia sedang menabung untuk melanjutkan kuliah. Baginya, pekerjaan yang dimiliki saat ini bukan akhir perjalanan, melainkan pijakan untuk berkembang lebih jauh.

Kisah Ali Ajiz: Membagikan Kesempatan kepada Teman
Pengalaman yang ia rasakan membuat Ali tidak ingin menyimpan kesempatan tersebut untuk dirinya sendiri.
Ia beberapa kali membagikan informasi pelatihan Institut Kemandirian kepada teman-temannya yang belum bekerja. Menurutnya, masih banyak anak muda di kampung yang belum mengetahui adanya kesempatan untuk mendapatkan keterampilan dan membuka peluang kerja.
Ali berharap semakin banyak anak muda yang berani mencoba.
Baginya, kesempatan memang tidak selalu datang dalam kondisi yang sempurna. Namun, seseorang perlu memiliki keberanian untuk mengambil langkah pertama.
Pesan Ali untuk Anak Muda
Perjalanan panjang mencari pekerjaan membuat Ali memiliki pesan sederhana bagi anak muda yang sedang berusaha mandiri.
“Yang penting kita jujur dan tidak malas. Disiplin itu lebih penting, karena kalau kita disiplin, kita bisa melawan rasa malas.”
Ali percaya bahwa kemandirian membutuhkan proses. Ada kegagalan, penolakan, keterbatasan, bahkan rasa takut yang harus dihadapi.
Dari pemuda yang pernah merantau dengan modal Rp200 ribu, mengalami penipuan, hingga berangkat mengikuti pelatihan dengan hanya membawa Rp20 ribu, kini Ali telah memiliki pekerjaan dan kembali menata masa depannya.
Perjalanan kisah Ali Ajiz tidak berhenti ketika ia mendapatkan pekerjaan. Bagi Ali, pekerjaan tersebut menjadi awal untuk menata kehidupan dan mengejar cita-cita yang sempat tertunda yaitu melanjutkan kuliah dan terus mengembangkan diri.
Bagi Ali, Institut Kemandirian menjadi salah satu jalan yang Allah hadirkan di tengah perjuangannya. Ia pun berharap lembaga tersebut terus berkembang agar semakin banyak anak muda mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan membangun masa depan.
Kisah Ali Ajiz mengingatkan kita bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari keadaan yang sempurna. Terkadang, ia dimulai dari keberanian untuk melangkah meski hanya dengan Rp20 ribu di saku.
Dan ketika ikhtiar terus dilakukan, selalu ada jalan yang Allah bukakan.
