Mengikat Semangat Wirausaha

Suatu siang, seorang sahabat berkunjung ke tempat usaha saya. Dia bercerita banyak mengenai perkembangan usaha yang dijalaninya. Sengaja ia datang ke tempat saya untuk bertukar pikiran. Sebagai sesama orang muda yang belajar menekuni usaha dan membangun kemandirian, bertemu dan berbagi menjadi salah satu suplemen penunjang semangat kami berwirausaha. Seperti halnya dalam konteks yang lebih luas lagi, berdirinya HIPMI, JPMI dan asosiasi atau pertemuan para pengusaha lainnya, tak lain adalah sarana agar sesama pengusaha bisa saling mendukung dan bekerjasama.

Nampaknya hal tersebut pula yang membuat sahabat saya ini lebih bersemangat berbagi dengan saya. Ia saat ini juga sedang aktif mengikuti pertemuan rutin yang beranggotakan wirausahawan-wirausahawan muda di Kota Yogyakarta, yang juga alumni Pelatihan ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian. Pada intinya mereka membentuk jaringan, saling berbagi visi besar dan janji saling mendukung satu sama lain untuk mencapai puncak kesuksesan bersama kelak. Meski mereka dari berbagai bidang usaha.

Sahabat saya begitu senang bercerita tentang forum barunya tersebut. Banyak hal yang bisa ia terapkan dalam jalan wirausaha yang dipilihnya. Termasuk mengatasi masalah kejenuhan dalam berwirausaha. Ia menemukan keinginan yang sama dengan teman-teman forumnya ketika mengalami masa-masa sulit dalam berwirausaha. Keinginan itu adalah berhenti menjadi wirausahawan dan melamar pada sebuah instansi atau perusahaan untuk bekerja menjadi karyawan dengan gaji yang aman dan rutin setiap bulannya. Sebuah keinginan yang juga pernah terlintas di pikiran saya.

Menjalani dunia wirausaha dari papan bawah seperti kami terasa begitu berat dan penuh dengan tantangan. Penghasilan yang tidak tetap, kerap kali menyambangi. Padahal kebutuhan hidup tanpa ampun menyergap dari segenap penjuru. Sehingga rasa tidak aman berwirausaha menggoda. Untungnya kami sadar bahwa itu hanya godaan. Godaan atas komitmen untuk berwirausaha.

Sahabat saya ini kemudian mengutip kembali pernyataan salah seorang seniornya dalam forum tersebut. Bahwa kita berwirausaha bukanlah karena rasa ingin belaka. Kita berwirausaha karena memang memilih jalan tersebut, menetapkan langkah itu dan mengikat komitmen diri dalam perjalanannya. Maka layaknya pernikahan, adalah sebuah kemestian ketika kita menjaga komitmen tersebut apapun ujiannya, apapun godaannya dan apapun hasilnya.

Hal tersebut adalah garis tebal dalam mindset seorang wirausahawan. Merupakan pemicu kekuatan diri untuk bangkit dan berlari kembali bagi seorang wirausahawan di masa sulit dan kegagalannya. Sungguh berharga untuk diingat sebagai salah satu modal utama berwirausaha. Sebuah oase menurut saya ketika ia menceritakan kembali perbincangan yang diikutinya dalam forum tersebut. Tepat ketika saya juga membutuhkannya.

Pilihan berwirausaha memang membutuhkan komitmen dan konsistensi yang tinggi. Apalagi tingkat persaingan usaha dan perilaku pasar semakin dinamis. Selanjutnya cita-cita untuk menjadi besar diawali dengan langkah-langkah sederhana untuk melakukan yang terbaik. Inspirasi ini lebih berarti ketika saya menyimak kalimat penutup dalam Mario Teguh Golden Ways, pada tanggal 9 Agustus kemarin. Kalimat tersebut adalah;

Berfokuslah pada hal-hal yang membuat anda bernilai, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Bagikan konten ini: