Kesetaraan akses kerja bagi penyandang disabilitas masih menjadi tantangan di Indonesia. Keterbatasan kesempatan, stigma sosial, serta minimnya pelatihan kerja membuat banyak difabel kesulitan menembus dunia kerja formal. Padahal, setiap individu memiliki hak dan potensi yang sama untuk tumbuh dan berdaya secara mandiri.


Menjawab kondisi tersebut, Dompet Dhuafa melalui Institut Kemandirian dengan MPZ Yayasan Indonesia Setara, menginisiasi Program Pelatihan Keahlian Dasar Crew Store pada tahun 2025. Program ini dirancang untuk membekali penyandang disabilitas dengan keterampilan dasar yang dibutuhkan di sektor retail—sektor yang dinilai memiliki peluang kerja luas dan relatif inklusif terhadap beragam kemampuan.


Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, pada 17–20 Desember 2025, ini dilaksanakan di Kampus Institut Kemandirian Tangerang dan diikuti oleh 22 peserta difabel dari wilayah Jabodetabek, dengan latar belakang disabilitas tuli, daksa, dan disabilitas ringan lainnya.


Selain materi teknis, peserta juga mendapatkan penguatan soft skill, meliputi pembentukan karakter, motivasi kerja, komunikasi efektif, kepercayaan diri, pengelolaan emosi, etika kerja, serta soft skill finansial (literasi keuangan). Pada sesi literasi keuangan ini, peserta diperkenalkan pada pengelolaan pendapatan, perencanaan keuangan pribadi, kebiasaan menabung, hingga pengelolaan risiko keuangan sederhana. Pembekalan ini penting agar peserta tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengelola pendapatan secara bijak untuk mendukung kemandirian dan keberlanjutan hidup mereka.


Pada aspek teknis, peserta dibekali keterampilan pelayanan pelanggan (customer service), operasional toko, transaksi kasir, hingga pengelolaan stok dan inventaris. Seluruh materi disampaikan melalui kombinasi teori dan praktik sehingga peserta mendapatkan pengalaman belajar yang menyeluruh dan aplikatif.

Direktur Institut Kemandirian, Abdurrahman Usman, menegaskan bahwa keterbatasan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
“Kami percaya, keterbatasan yang dimiliki seseorang tidak boleh dijadikan penghalang untuk meraih kesuksesan. Dalam keadaan seburuk apa pun, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk sukses, selama diberi akses dan kepercayaan,” ujarnya.
Program ini dijalankan melalui kerja sama Dompet Dhuafa melalui Institut Kemandirian dengan MPZ Yayasan Indonesia Setara, serta didukung oleh mitra Inklusi dan Yayasan Difabel Mandiri Indonesia sebagai upaya membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif.

Mitra program, Budi Hasanudin dari Yayasan Difabel Mandiri Indonesia, menilai pelatihan ini sebagai langkah konkret dalam membuka ruang kerja yang setara.
“Difabel bukan objek belas kasihan, melainkan individu dengan kompetensi. Pelatihan seperti ini penting untuk menjembatani kesiapan difabel dengan kebutuhan dunia kerja,” katanya.

Manfaat pelatihan ini dirasakan langsung oleh peserta. Krisdayanti, peserta difabel tuna rungu, mengaku lebih percaya diri setelah mengikuti pelatihan.
“Saya senang bisa ikut pelatihan ini. Saya belajar banyak hal baru dan jadi lebih percaya diri untuk berkarir meskipun memiliki keterbatasan,” tuturnya.

Sementara itu, Akbar, peserta dengan disabilitas mental, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberinya semangat baru untuk berkembang.
“Saya ingin mandiri dan mengembangkan usaha jualan di rumah. Pelatihan ini memberi saya pengetahuan dan keberanian untuk terus berusaha,” ujarnya.



Melalui pelatihan ini, Institut Kemandirian berharap dapat melahirkan tenaga kerja difabel yang kompeten, profesional, dan siap bersaing di dunia kerja. Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, program ini menjadi langkah nyata dalam mendorong inklusi, keadilan sosial, literasi finansial, serta perubahan cara pandang masyarakat terhadap potensi penyandang disabilitas.
Teks & Foto : Siti Halimatussadiah
Penyunting : M. Imam Baihaqi




