kursus menjahit gratis

Gunung Sindur Kami Datang

mini-4

(Catatan On The Job Training Peserta Teknisi HP Angkatan 1 Tahun 2013)
Oleh : Arie S. Syahputra. Staf Pendampingan di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

mini-1Bertempat di halaman Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor, 15 orang (peserta ditambah instruktur dan manajemen IK) hadir dengan satu semangat dalam kebersamaan. Semangat untuk menerapkan pengetahuan yang telah kami dapat di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa kepada masyarakat Gunung Sindur.

mini-2

Alhamdulillah selama 2 hari (28-29 Januari 2013) warga sekitar kantor Kecamatan cukup antusias. Terbukti jumlah HP yang kami terima lebih dari 60 dan kami berhasil memperbaiki HP yang rusak sebanyak lebih dari 30 buah. Pengalaman berharga untuk masa depan peserta.

mini-5

Di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, On The Job Training merupakan fase yang wajib diikuti oleh peserta setelah belajar di kelas selama 2 minggu. Tujuannya agar peserta kelas Teknisi HP paham bagaimana melayani konsumen, menangani komplain, dan tentunya bertindak tepat dan cepat memperbaiki HP konsumen. Inilah proses yang mendukung impian IK, terbentuknya alumni pelatihan yang berkarakter dan mandiri.

mini-6

Tidak lupa kami haturkan terima kasih kepada pihak Kecamatan Gunung Sindur yang mengizinkan penyelenggaraan dan turut berpartisipasi dalam acara. Juga kepada masyarakat sekitar kantor Kecamatan.

mini-bersama Pak Camat

Kami juga berharap ada warga dari Kecamatan Gunung Sindur ikut belajar di Institut Kemandirian demi perubahan masa depan kita yang lebih baik lagi.

dare_to_dream__this_is_the_life2905-d3fn4ea
0

Dilarang Tidak Bermimpi (Catatan III)

dare_to_dream__this_is_the_life2905-d3fn4ea

Oleh : Arie S. Syahputra
Staf Pendampingan Karir di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

 “Walt Disney berpikir tentang istana bermain ketika melihat saudara perempuannya asyik naik komidi putar. Mozart berkhayal tentang musik sepanjang jalan menuju pedesaan. Nada-nada yang berkelebatan di kepalanya itu melahirkan komposisi yang saat ini termasyhur diseluruh dunia. Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi merengkuh seluruh dunia, merangsang kemajuan dan melahirkan evolusi (Albert Einstein). Einstein pada usia ke-16 membayangkan ia berlari atau bersepeda di sepanjang pendar sinar matahari setelah diusir dari kelas karena berdebat dengan gurunya ketika diminta menghafal. Khayalannya itu menjadi bibit lahirnya teori relativitas.” (Sumber : HU Kompas)

Silahkan kita simak kutipan diatas dengan seksama. Lalu silahkan kita bermimpi kesuksesan apa yang mau kita inginkan. Jangan terpengaruh oleh “gonggongan dan godaan” pihak lain yang tiap saat akan selalu ada menghalangi dan bisa menghambat mimpi kita. Jangan juga tertular omongan ‘jangan terlalu tinggi punya mimpi nanti kalau jatuh sakit’. Dimana-mana, yang namanya jatuh hanya satu yang enak yaitu jatuh cinta selain itu rasanya sakit.

Sukses kita di masa depan memang diawali dari mimpi besar bukan mimpi yang biasa-biasa saja. Tengoklah sejarah Indonesia. Rakyat dan para pemimpinnya ketika itu selalu semangat mengusir penjajajah dengan kondisi yang serba terbatas. Pengorbanan mereka, keikhlasan, tekad, keyakinan dan kerjasama yang kokoh akhirnya membuahkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan fisik negara lain.

Sekarang siapkan kertas putih dan alat tulis Anda. Kita sama-sama tuliskan impian-impian Anda bulan depan, 2 tahun lagi dan hingga 10 tahun kemudian. Tulislah dengan ukuran yang agak besar dan huruf kapital lalu digarisbawahi agar mempertegas impian kita. Cantumkan juga bulan, tahun dan bisa juga hari kapan impian itu akan Anda raih. Semakin spesifik Anda menuliskan waktunya maka akan semakin kuat motivasi kita untuk mendapatkannya. Bila sudah, siapkan lem atau perekat lainnya di balik kertas impian Anda. Lalu rekatkan di tempat yang sering Anda lewati. Bisa di kamar atau ruang tamu.

Sahabat sekalian, impian sudah kita buat. Ada sebuah analogi bijak bahwa biji buah tidak akan bisa menjadi buah yang manis bila kita tidak merawat, memberinya pupuk dan menjaganya dari hama. Ingatlah bahwa impian tersebut bisa menjadi bungkusan tak berarti bila kita tidak ‘menumbuhkan dan merawatnya’. So, jadikan itu kerja konkrit Anda.

Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
1

Belajar Dari Kepedulian Pak Agus Ingin Menjadi Sopir Mobil Jenazah

Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

 

Institutkemandirian.org-Sejak sekolah, Pak Agus bercita-cita ingin menjadi sopir tapi tidak ada kesempatan untuk belajar mengemudi. Lahir di Jakarta 19 Agustus 1960,  dia sudah mengalami bagaimana susahnya kondisi Indonesia tahun 60-an, cari minyak tanah saja susah , harus antri dan  sering tidak kebagian jatah. Lulus dari SMA YAPENAP Tahun 1978, Pak M. Agus Purnomo bekerja sebagai seorang Helper  di  dapur sebuah hotel besar di Jakarta lebih dari 20 tahun.

Tahun 1980, Pak Agus memutuskan untuk pindah tempat tinggal dari Manggarai ke Binong Tanggerang. Meskipun pindah rumah dia tetap tidak keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan hotel di Jakarta. Hotel tempat Pak Agus bekerja adalah proyek padat karya pemerintah, tapi gaji yang dia dapatkan masih dibawah PNS. Padahal setiap tanggal 17 Agustus dia selalu dapat baju KORPRI dan ikut upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI. Pergantian presiden menuai kebijakan baru, hotel yang menurut Pak Agus tidak merugi dijual ke pihak asing.   “ Saya tak mengerti mengapa hotel tempat saya bekerja dijual ke asing, akibatnya lebih dari 500 karyawannya kena PHK karena  kebijakan manajemen hotel yang baru”, tutur Pak Agus terlihat merenung ke masa silam. Proses PHK-nya pun bertahap, tahap pertama dia selamat, namun manajemen menawarkan dia untuk keluar sampai 7x. Sebagai kepala rumah tangga dengan alasan kondisi keluarga dia masih bertahan karena tidak ada cacat selama melakukan pekerjaan. Akhirnya nurani pun terketuk, merasa tidak enak keseringan dipanggil untuk secara sukarela keluar, maka Saya putuskan keluar dan perusahaan memberi pesangon 50 jt.

Pesangon yang Pak Agus dapatkan digunakan untuk merenovasi rumah dan modal usaha berjualan di lingkungan sekolah. Awalnya dia  berjualan tahu bulat, berganti jualan Cireng karena pembeli tahu bulat menurun tidak menutup modal usahanya. Alhamdulillah, omset jualan Cireng lumayan besar, sehari bisa 300 cireng laku terjual. Tapi entah kenapa, ketika terjadi pergantian penjaga sekolah baru, kebijakan baru pun keluar. Siswa boleh jajan keluar lingkungan sekolah. Akibatnya omset penjualan cireng dia pun semakin berkurang, hanya terjual 100 cireng tiap harinya. Dalam hatinya masih mengucap syukur pada Allah SWT, masih diberikan kesehatan untuk jualan dan bisa menghidupi keluarganya. Semangat berwirausaha Pak Agus masih tertanam dalam jiwanya yang sebelumnya pernah mengikuti program pelatihan wirausaha Institut Kemandirian Dompet Dhuafa tahun 2010.

Kehidupan Pak Agus sebagai tulang punggung keluarga saat ini sedikit terbantu oleh sanak saudaranya. Anak-anaknya pun sudah bekerja di super market yang ada di Daerah Serpong  sambil kuliah di Universitas Pamulang. Mereka  pagi kuliah dan sore bekerja setiap harinya. Kegiatan Pak Agus yang terasa berat karena faktor usia ditambah menurunnya daya ingat, tapi tidak menghapuskan rasa kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Suatu saat, dia melihat rombongan pembawa jenazah melintas didepannya. Sebuah mobil pick up biasa dipakai angkutan berangkal, pasir, dan tanah membawa keranda jenazah terlihat di depan rombongan. Sebagai muslim beliau terusik nuraninya akan penghormatan terhadap jenazah. “Masa membawa jenazah pake kendaraan pengangkut berangkal dan tanah”, tuturnya sambil meneteskan air mata saat menceritakan kejadian itu di depan tim Institut kemandirian. Kejadian itu menginspirasi beliau untuk mengabdikan dirinya menjadi sopir mobil jenazah di lingkungan tempat tinggalnya. Kebetulan, DKM Riadusholihin dekat rumahnya mendapatkan bantuan mobil jenazah dari Departemen Luar Negeri, inilah semakin menguatkan niatnya untuk belajar mengemudi.

Perjalanan ikhtiar mencari orang atau lembaga yang ingin mengajari Pak Agus keterampilan mengemudi terganjal biaya yang harus dikeluarkan. Sampai akhirnya ketika ada pertemuan di Masjid At-Taqwa Palem Asri, dia melihat dan membaca sebuah poster Institut Kemandirian Dompet Dhuafa tentang pelatihan mengemudi gratis. Ada rasa gembira yang dirasakannya, ternyata lembaga yang telah memberikan semangat wirausahanya juga memberikan kesempatan bagi yang ingin bisa mengemudi dikalangan kaum dhuafa. Tanpa pikir panjang akhirnya dia mendaftarkan diri sebagai peserta pelatihan mengemudi Institut Kemandirian. Meskipun usia 53 tahun semangat kepedulian Pak Agus dibuktikan dengan belajar serius mengemudi agar kelak dia bisa membawa jenazah dengan mobil jenazah yang lebih layak di lingkungannya.

Kisah Pak Agus ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk menjadi manusia yang hidup dengan baik (Hayyatun Thoyyibah), selain harus melakukan ibadah dengan baik wajib menjaga keluarganya, mencari rezeki yang halal dan menanamkan rasa kepedulian kepada sesama dan  lingkungannya. “Muda berkarya, Tua berwibawa, dan Mati harum namanya atau Muda jadi kaya dan Mati masuk syorga” . Begitu kata Pak KH. Ridwan Lubis pengurus Yayasan Islamic Village saat mengisi hutbah Sholat Jum’at,  11 januari 2012  di Masjid Al-Istighna Islamic Village Karawaci Tangerang Propinsi Banten.  By RAA.

sukses
2

Kesuksesan Dipersimpangan Jalan

sukses

Oleh: Rodiannauli Pane S.Sos

Setiap kesuksesan datang dari hati yang sukses. Dan setiap hati yang sukses selau datang dari keberhasilan diri dalam memimpin hati menjadi sebuah pergerakan. Sehingga pergerakannya menjadi lebih bermakna dan menginspirasi siapa saja yang menginginkan kesuksesan. (Karawaci, Penulis awal 2013)

“ saya tidak mau menganggur lagi, saya ingin lebih mandiri”. Itulah rata-rata alasan yang sering disampaikan oleh sebagian besar peserta Institut Kemandirian Dompet Dhuafa (IK-DD)  Jakarta. Mereka memiliki harapan besar bahwa sepulangnya dari menuntut ilmu di IK DD dapat menjadi lebih mandiri atau minimal status pengangguran tidak melekat lagi pada diri mereka.

Impian besar tersebut, tentu menjadi akan kabur maknanya jika tidak diiringi dengan niat kuat untuk mandiri. Artinya, Institut Kemandirian hanyalah sebuah lembaga yang mewadahi dan berusaha untuk memberikan pembekalan dan motivasi serta pendampingan dalam merubah setiap diri kita. Namun kemudian setelah lulus, peserta dapat mandiri itu kembali pada peserta sendiri dalam merancang kehidupannya.

Inspirasi Kesuksesan

Kesuksesan tidak dapat diraih dengan bergantung pada orang lain/lembaga. Siapapun yang ingin sukses berawal dari bagaimana mampu memimpin keinginan hati berbuah menjadi sebuah pergerakan produktif untuk menghasilkan kesuksesan.

Masih ingatkah kita kesuksesan seorang Habibie untuk menjadi seorang teknokrat. Beliau melangkah ke Jerman untuk satu cita-cita agar Indonesia menjadi Negara yang sejajar dimata Internasional. Perjuangan dan perngorbanannya belajar ke Jerman ternyata diawali dari hati yang kuat untuk menjadi yang terbaik. Apa pun  yang dilakukakannya dilakukan dengan tekun. Setiap cobaan bahkan sampai meremehkan kemampuan Habibie sebagai orang Asia di jerman sempat diragukan oleh sebagian professor tempat dia belajar. Tetapi beliau meyakinkan pada hatinya, bahwa dirinya mampu dan bisa sehingga motivasi kuat inilah yang membuat dirinya terus berkarya sehingga di tahun 1995 beliau membuat pesawat terbang pertama Indonesia yakni N250. Akhirnya pergerakan karyanya menjadi sebuah inspirasi bagi bangsa Asia lain untuk bersama-sama dapat menunjukkan pada dunia Internasional bahwa orang Asia gterutama Indonesia mampu memberikan kontribusi terhadapa peradaban dunia. Awalnya boleh jadi orang bingung dengan nama Negara Indonesia bahkan dipeta dunia pun tidak terlalu besar kelihatannya karena Negara berpulau-pulau. Tetapi dari kekuatan hati, yang membuahkan pergerakan produktif, akhirnya orang mencari tahu dan tahu bahwa Indonesia sebagai Negara yang kepulauan dapat memberikan inspirasi untuk suatu nama perubahan.

Apa yang dilakukan oleh Bacharudin Jusuf Habibie yang pernah menjadi Preseiden RI pada masa krisis moneter ini, membuktikan bahwa kemandirian hanya dapat dilakukan dengan adanya ketekunan. Bukan dukungan Negara, dan bukan pula dukungan universitas dia belajar. Bahkan ketika beliau akan menciptakan gerbong kereta api tercepat di Jerman, kemampuannya dipertanyakan. Tetapi beliau terus mampu memimpin kedalaman hatinya untuk tetap menghasilkan dan menghasilkan pergerakan. Seolah ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa bekerja dan bekerjalah maka hasil pun akan mengikuti ketekunan kita. Dan itu semua sudah dibuktikan oleh seorang Habibie. Sehingga semua orang pun bangga atas kemampuannya dalam menginspirasi kesuksesan.

Kesuksesan dipersimpangan Jalan

Kita ingin sukses, tapi rasanya tanggug bener ya..Lho Kok… Kesuksesan yang nanggung biasanya datang bukan dari hati yang terdalam. Jika kita sungguh-sungguh ingin sukses, maka kesuksesan kita tidak mesti didompleng oleh ketenaran dari universitas/lembaga tempat kita belajar. Artinya sukses atau tidaknya kita dalam membawa perubahan itu tergantung bagaimana kita bisa berfikir tetap kreatif dalam mengarungi kehidupan. Sehingga tetap bisa survive dengan kreatifitas kita.

Lihat saja Dompet Dhuafa bisa tetap survive sampai sekarang, dikarenakan kreatifitas dari para pengelola amil zakat dalam mendistribusikan dana-dana ZISWAF dengan kreatifitas program pemberdayaan yang produktif. Apa jadinya, jika lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa hanya mengandalkan pembagian zakat fitrah dimasa hari raya Idul Fitri, maka label Islam sebagai agama Rahmatan Lill alamiin tidak akan pernah terasa oleh siapapun bahkan untuk umat Islam sendiri.

Untuk itu, kesuksesan dapat dikatakan kesuksesan dipersimpangan jalan ketika kesuksesan kita bergantung pada orang lain. Jika ingin mandir, makan mandirilah dalam mengelola kemandirian kita.    Ada beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan, agar kesuksesan kita tidak dipersimpangan jalan, yakni

  1. Jadikan setiap langkah kaki kita menuju perubahan sebagai ibadah.
  2. Ikhlas dalam bekerja yakni memotivasi diri untuk mandiri bukan karena alasan mendapatkan uang semata tetapi dalam rangka mendapat mardatillah dari Allah SWT (Q.S Al-BAqarah; 207-265)
  3. Harus dalam koridor yang benar. Artinya apa pun yang dilakukan tetap terjaga keamanahannya dalam mencapai kesuksesan dengan tidak bertentangan secara muamalah (ibadah umum) dan tetap menjaga tuntunan Rasulullah dalam pekerjaan ubudiyah (ibadah nkhusus) sehingga tetap berada pada jalur yang di ridhoi Allah.(Q.S Ali – Imran 31 ; Al-HAsyr:10)
  4. Ash-Shalah yakni pilihlah pekerjaan yang baik dan bermanfaat serta memiliki nilai lebih yang dapat meningkatkan derajat umat sehingga dapat mengantarkan umat Islam menjadi lebih baik lagi dalam peradaban. (Q.S Al-An’am 32)
  5. Al-Itqan ( Kemantapan atau Perfectness) yakni bekerja secara professional dengan memberikan nilai lebih dan bermutu dari setiap pekerjaan yang dilakukan. (An-Naml;88 dan Al-Baqarah: 263).
  6. Al-Mujahadah yakni kerja keras dan optimal (Q.S Ali-Imran 142; Q.S Al-Maidah 35; Q.S Al-Furqaan 25 dan Q.S Al-Ankabut 69)
  7. Tanafus dan Ta’awun yakni berkompetisi dan tolong menolong (Q.S Al-BAqarah 108)

Selamat Tinggal Kesuksesan di Persimpangan Jalan

Seorang alumni IK yang sukses adalah yang dapat memaknai bagaimana seharusnya seorang muslim itu bekerja. Setiap apapun yang dillakukan oleh seorang muslim adalah bagian dari ibadah. Untuk itu sudah sepantasnya kesuksesan yang kita raih mestinya bersandar pada nilai-nilai perubahan yang bersandar kepada kebenaran hakiki. Karena etos kerja seorang muslim lebih dari hanya sekedar menghargai waktu, atau tidak hanya sekedar urusan mendapatkan uang tetapi bagaimana pekerjaannya bisa menginspirasi banyak orang  dengan pekerjaannya dapat mendatangkan keberkahan pada diri, keluarga dan lingkungan sosialnya. Karena hakikatnya etos kerja seorang muslim langsung berhubungan dengan keimanan kepada Allah SWT.

Penulis adalah Supervisor pendampingan dan exhouse training Institut Kemandirian Jakarta.

Iskandar
0

Lebih Mandiri Dan Berkarakter

 

Iskandar

Iskandar

Iskandar, pria kelahiran Jakarta, 25 Januari 2012, sengaja berkunjung ke Institut Kemandirian untuk silaturahmi . Sungguh menjadi kenangan manis pria yang bercita-cita ingin jadi pengusaha, selama 3 bulan ikut pelatihan teknisi motor di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa Ramadhan 1433H./2011. Kini Iskandar bisa menikmati hasil perjuangannya bisa menjadi staf produksi di PT. Mitsuba Jatiwuwung Tangerang dengan penghasilan 1,8 juta sebulan.

Sebelum ikut pelatihan di Institut Kemandirian, lulus dari SMK Penerbangan Curug Tahun 2011 Iskandar pernah kerja disebuah dealer sebagai marketing selama dua bulan. “Cita-cita saya menjadi pengusaha, sebenarnya setelah lulus SMK ingin melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Karena berat dengan beban biaya, saya merasa tidak akan bisa kuliah dengan pendapatan orang tua yang minim sebagai penjahit.” tutur Iskandar yang terlihat menerawang kemasa lalu. Akhirnya pada suatu hari sedang mendengarkan siaran radio, ada informasi pelatihan gratis di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Keberanian mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya dan  mengikuti pelatihan adalah karena termotivasi ingin menambahkan kemampuan keterampilan di bidang otomotif sepeda motor serta cita-citanya ingin menjadi pengusaha.

Iskandar

Iskandar

Pengalaman pertama yang masih berkesan ikut pelatihan di Institut Kemandirian adalah pola pembelajaran yang berbeda, yaitu ditanamkan disiplin, olah fisik dan tidak meroko. Pembinaan ini telah membentuk pribadi saya bisa dan fisik lebih baik , padahal sebelumnya kaget dan malas mengikutinya. Kepercayan diri, kemampuan teknis dan rasa empati pada diri Iskandar semakin tumbuh karena pembiasaan selama pendidikan. Inilah hal yang masih melekat pada diri Iskandar sampai saat ini. Semangat belajar  Iskandar tidak cukup setelah bekerja, ada rencana untuk meneruskan kuliah ke perguruan tinggi sambil bekerja. “Saya meneruskan kuliah mungkin ngambil kelas karyawan ” kata Iskandar penuh semangat.

Iskandar datang ke Institut Kemandirian tidak sendiri, bersama teman seangkatan pelatihan Otomotif Institut Kemandirian angkatan 4 tahun 2011,  Ali Nasrullah namanya, pria kelahiran Tangerang 16 Juli 1993. Ali adalah panggilan akrabnya, lulus dari SMK Otomotif 2 Sepatan Tangerang Tahun 2011 cita-citanya sama dengan Iskandar ingin jadi pengusaha. Selepas sekolah Ali berbeda dengan Iskandar, dia mencari tempat kursus otomotif untuk meningkatkan pengetahuannya. Berbekal informasi dari orang tuanya melihat informasi pelatihan gratis otomotif sepeda motor Institut Kemandirian, Ali mendaftarkan diri lewat online di www.InstitutKemandirian.org. Awalnya tidak percaya bahwa pelatihan itu gratis, setelah lihat di situs Institut Kemandirian akhirnya dia ikut pelatihan.

Walaupun Ali kini bekerja sebagai karyawan  di sebuah perusahaan waralaba dibilangan Tangerang, rasa syukur mengikuti pelatihan tidak berkurang kepada Allah SWT.telah mengikuti pelatihan di Institut Kemandirian. Banyak hal yang dia petik dari pelatihan, meningkatkan kepercayaan diri, mengubah pribadinya yang lebih baik dan semangat untuk menjadi pengusaha tetap terjaga. Dari hasil pekerjaanya Ali mendapatkan penghasilan bersih 700 ribu perbulan. Semangat untuk berwirausaha dibuktikan dengan menyisihkan sebagian dari penghasilnnya untuk modal usaha.

Ali dan Iskandar mendapatkan berkah ilmu dan rizki dari pelatihannya. Ikatan silaturahmi dengan tempat menimba ilmunya pun tidak luntur meski sudah setahun mereka masih ingat dengan Institut Kemandirian. Ternyata silaturahmi mereka membawa berkah bagi adi kelasnya yang hari ini Jum’at 28 Desember 2012 sedang mengadakan acara perpisahan lulus dari pelatihan. Mereka bisa berbagi pengalaman untuk meningkatkan motivasi adik kelasnya agar tetap semangat dalam usahanya untuk mandiri. Dengan tema “Perpisahan Bukanlah Akhir dari Persaudaraan” tepat sekali dengan makna kunjungan Iskandar dan Ali bahwa ikatan silaturahmi tetap terjaga walau sudah lama meninggalkan kampus. Ada banyak kebaikan yang menurut meraka dapatkan selama ikut pelatiha, kemampuan skil dan pribadi saya bisa lebih baik setelah ikut pelatihan di Institut Kemandiran Dompet Dhuafa. Penanaman disiplin, belajar keras di kelas pelatihan, berolahraga tiap pagi, membiasakan sholat duha, anjuran bertahajud di malam hari dan berempati dengan lingkungan sekitar bisa membentuk saya menjadi mandiri dan berkarakter. Trims

By R.A.A

Saya Bisa Walau Hanya Satu Kaki
1

Saya Bisa Walau Hanya Satu Kaki

Saya Bisa Walau Hanya Satu Kaki

Saya Bisa Walau Hanya Satu Kaki

Oleh : Arie S. Syahputra – Staf Pendampingan di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

Apa-apa yang ada di bagian tubuh kita adalah anugerah dari Alloh agar manusia bisa beraktifitas sesuai kadarnya. Saling terintegrasi dan sistematis. Dengan utuhnya tubuh kita, semakin banyak prestasi yang bisa kita raih dan juga semakin besar manfaat yang bisa kita tebar kepada ummat dan lingkungan sekitar. Tapi bagi pria kelahiran Wonogiri 29 tahun yang lalu, kehilangan satu anggota tubuhnya bukan menjadi halangan dalam mencari rahamt Alloh dan bukan pula ajang untuk menuntut Alloh atas apa yang menimpanya. Ia sadar keadaan tubuhnya saat ini. Dan ia tidak mau dengan kondisinya sekarang hanya berdiam diri.

Pria tersebut adalah Mas Ahmad. Dan kisahnya terjadi 4 tahun yang lalu. Tragis memang, seorang dokter senior di kota “S” salah melakukan analisa dan ceroboh menggunakan peralatan medis yang mengakibatkan kaki kanan Mas Ahmad harus diamputasi. Sangat fatal. “Kata dokter, Saya dicurigai ada penyakit di betis kanan. Lalu setelah itu, katanya saya harus dioperasi untuk mengangkat penyakit tersebut” kata Mas Ahmad mengawali pembicaraan. Atas dukungan keluarga, akhirnya Mas Ahmad dioperasi. Dan terjadilah hal yang tidak diinginkan. Mas Ahmad melanjutkan, “Parahnya, dokter tidak memberitahu Saya dan keluarga kalau mereka salah motong. Harusnya dipinggir urat nadi sekeliling penyakit itu..eh malah urat nadi Saya, Pak yang dipotong”.

Saya Bisa Walau Hanya Satu Kaki

Saya Bisa Walau Hanya Satu Kaki

Setelah operasi tersebut, Mas Ahmad mengalami momen yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya, yaitu kakinya harus diamputasi disebabkan mal praktek dokter sebelumnya. “Tapi ya beginilah jalan yang Alloh berikan. Saya menerimanya” ucap Mas Ahmad dengan pandangan kosong lirih mengingat masa lalunya. “Pak, Saya 2 tahun stres. Gak bisa ngapa-ngapain” lanjutnya. Dengan penuh semangat, Mas Ahmad menuturkan, “tapi Alhamdulillah, setelah itu Saya bangkit. Saya coba jualan pulsa, bensin eceran, makanan. Dan sekarang hampir 2 tahun ini Saya jualan roti walau usaha Saya itu Saya lakukan dengan satu kaki ”. Dan saat ini, Mas Ahmad kembali “menikmati” berjalan dengan 2 kaki. Alhamdulillahirobbil’alamiin

Mas Ahmad mendaftarkan dirinya ke Institut Kemandirian Dompet Dhuafa untuk mendapatkan kaki palsu. Proses tersebut diawali setelah tim IK-DD bersama rekan-rekan Rumah Produksi Kaki Palsu (RPKP) melakukan home visit dilanjutkan dengan pengukuran. Setelah di ukur, rekan-rekan dari RPKP membuatnya. Dan syukur Alhamdulillah terpancar dari wajahnya. Ia sampaikan kepada Alloh atas nikmat tersebut. Dan tidak lupa, “Saya ucapkan terima kasih kepada temen-temen (IK-DD & RPKP)” syukurnya penuh haru. Barakallahu fiikum, Mas…yang penting tambah terus semangatnya!! Semoga Alloh senantiasa memudahkan Mas dalam mencari ridhoNya.

Bantuan Kaki Palsu
1

Akhirnya Harapan Itu Terjawab Setelah 19 Tahun Menunggu

Bantuan Kaki Palsu

Bantuan Kaki Palsu

Oleh : Arie S. Syahputra – Staf Pendamping di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

Bagi sebagian orang,  menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tak jarang kata-kata “sabar itu ada batasnya” sering terdengar di telinga kita. Tapi apa benar kata-kata tersebut? Yang pasti bagi Ibu Sofi’ah Ma’ful atau biasa di sapa Ibu Sopi, kesabaran tiada batasnya. Kesabaran disertai keikhlasan adalah kebahagiaan karena menerima apa yang Alloh ‘skenariokan’ padanya. Kesabaran yang ditambah niat pantang menyerah adalah semangat membara untuk terus membantu suami menghidupi keluarganya. Walau beliau seorang disabilitas. Yang kehilangan kaki kanannya akibat menderita tumor ganas.

Bantuan Kaki Palsu

Bantuan Kaki Palsu

“Saya seperti ini sejak tahun ’93. Sudah 19 tahun ya, Pak, “ ucapnya pada penulis dengan nada lirih. Masya Alloh…bukan waktu yang sebentar dan luar biasanya bukan pula kata-kata kebencian atas apa yang menimpanya. Hanya ketegaran yang terlihat dari wajahnya. “Campur aduk, Pak perasaan Saya setelah kaki Saya diamputasi. Terus si Desi, anak kedua Saya minder disekolahnya karena punya ibu kakinya buntung. Sering diejek kataya, Pak. Kalo ambil rapor, Desi gak mo kalo Saya yang ambil. Sedih, Pak…Sakit hati ini, Pak. Saya mesti lewat pintu belakang sekolah kalo mo liat anak Saya atau ada undangan dari guru.” ujarnya dengan pipi yang basah terkena air mata.

Bantuan Kaki Palsu

Bantuan Kaki Palsu

Ya Alloh..berikan lah selalu kesehatan, ampunan, rezeki halal lagi baik yang tiada terputus untuk beliau dan keluarganya. Beliau yang tak kenal lelah bekerja di pabrik, jualan sayuran, gado-gado dan nasi uduk demi anak-anaknya walau ‘sang tumor’ menggerogotinya. Beliau yang selalu berpikir apalagi yang bisa Ia lakukan untuk menyekolahkan anak-anaknya walau satu kakinya telah ‘tenggelam’ di dasar tanah.

Bantuan Kaki Palsu

Bantuan Kaki Palsu

Pembaca yang budiman, di rumahnya yang sejuk dan sederhana (di Desa Jampang Kecamatan Kemang, Kab. Bogor), tim, yang terdiri dari Institut Kemandirian (IK) DD dan sahabat-sahabat dari Rumah Produksi Kaki Palsu (RPKP) mendatangi Ibu Sopi. Disambut Pak Gunawan selaku Ketua RT setempat, tim menyerahkan 1 unit kaki palsu gratis kepada Ibu Sopi. Yang dananya bersumber dari muzakki yang disalurkan ke Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa. Kaki palsu tersebut dibuat oleh Rumah Produksi Kaki Palsu (RPKP) yang merupakan satu diantara kelompok binaan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Bagi masyarakat yang membutuhkan kaki palsu, bisa segera menghubungi RPKP. Berdasarkan penuturan Pak Wili, MarKom Departement IK-DD, “silahkan bagi masyarakat yang butuh kaki palsu tapi dananya belum mencukupi, bisa menghubungi kami”.

“Alhamdulillah ya Alloh…terima kasih untuk semua kru Dompet Dhuafa yang bantu Saya punya kaki lagi” syukurnya pada sang pemilik alam. Berterima kasih lah pada Alloh dan para muzakki, Bu, bukan pada kami. 11 Desember 2012, langit sore di Bogor semakin redup. Saatnya tim undur diri. Subhanalloh, hikmah yang luar biasa. Dan 3 kata yang mungkin bisa mewakili hikmah tersebut ; sabar, ikhlas dan tidak menyerah.

Ust. Abu Fitran
0

Ada Nilai Dakwah Dalam Pekerjaan Saya

Ust. Abu Fitran

Ust. Abu Fitran

Pagi-pagi klakson mobil sudah berbunyi di depan rumah, ternyata Mobil Ust. Abu Fitran sudah menjemput untuk berangkat ke kantor Institut Kemandirian di bilangan Karawaci Tangerang. Alhamdulillah hari itu saya tidak harus naik motor berangkat ke Kantor yang sangat melelahkan setiap hari menempuh jarak Bogor-Karawaci Tangerang. Sepanjang jalan beliau menuturkan kata-kata hikmah yang memberikan motivasi dalam mengarungi biduk kehidupan.

Ada hal yang sangat menarik selama perjalanan dengan Ust. Abu, “ Saya memilih pekerjaan ini adalah untuk dakwah, bahkan rumah saya untuk umat”, kata beliau sambil terus menyetir mobil. Sebelum menjadi instruktur mengemudi, beliau pernah membuka usaha konstruksi, kerja di bank dan pernah menjadi menejer sebuah hotel swasta di Kota Madina Arab Saudi. Riwayat pendidikan beliau sebelum lulus jurusan Bahasa Arab Universitas Madina, pernah kuliah arsitek di Universitas Atmajaya tahun 1991, terus mengambil jurusan perbankan di Perbanas, dan lulus sekolah perhotelan serta pilot dari Australia. Lahir di Jakarta, 23 Desember 1971 dan tinggal lama di lingkungan Istana Negara pada jaman Presiden Soeharto sampai usia SMA karena Bapak beliau, Djoko Sutono bekerja sebagai kepala rumah tangga istana.  Setelah mengalami proses panjang dimulai dengan merasa tenang ketika mendengar adzan sampai  perkenalannya dengan salah seorang pegawai honorer istana yang membawa beliau masuk Islam saat masuk usia kuliah. (Hidayah Titisan Yahudi, Tabloid Al Hikmah edisi 74 September 2012).

Ust. Abu Fitran dan Pak Willy

Ust. Abu Fitran dan Pak Willy

Pelajaran yang tidak kalah penting selama perjalanan adalah kata-kata pencerahan tentang bagaimana menyikapi hidup untuk selalau tawakal pada Allah SWT. Menafkahkan rezeki siang dan malam sampai harus berusaha sedekah dalam keadaan lapang dan sempit. Pengalaman hidup beliau menguatkan untuk selalu yakin bahwa Allah SWT akan selalu memberikan rezeki kepada umatnya. Ustad Abu Fitran mencotohkan, sebelum menikah beliau pernah memberikan rumah kepada temannya yang membutuhkan, setelah tiga bulan ada orang yang membelikan rumah kembali di tempat lain. Kejadian tersebut berulang sampai tiga kali, itulah kekuasaan Allah SWT katanya.

Ketika kembali diulang pertanyaannya mengapa memilih pekerjaan sebagai instruktur mengemudi di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa dan usaha rental mobil, jawabnya ada nilai dakwah dalam pekerjaan saya. Selama menjadi instruktur beliau bisa menambah hafalan Al qur’an dan membina peserta dalam menjalankan sholat tepat waktu. Selain itu bisa memberikan motivasi kepada peserta pelatihan agar tetap semangat dan sabar menjalani hidup. Beliau selalu memberikan contoh pengalaman hidupnya bisa membeli rumah seharga 500 juta dan mobil 4 untuk usaha rentalnya, semua itu adalah rezeki dari Allah SWT. Usaha rental mobil pun beliau jadikan ladang dakwah, dan tidak keberatan jadi sopir mengantarkan pelanggan terutama yang baru. Usahanya tidak hanya mencari keuntungan semata, ada misi sosial untuk membantu masyarakat, misalnya mengantar orang sakit tanpa dipungut biaya sewa. Banyak pelanggan yang menyewa mobil beliau kembali memperhatikan sholat jamaah di masjid meskipun dalam perjalanan .Hal inilah nilai dakwahnya, beliau selalu meminta waktu kepada pelanggan untuk sholat di masjid ketika diperjalanan.

Ust. Abu Fitran dan Pak Willy

Ust. Abu Fitran dan Pak Willy

Tidak terasa mobil sudah nyampe kantor, Alhamdulillah banyak hikmah yang didapat selama perjalanan. Inilah semangat pencerahan yang memberikan motivasi untuk selalu tawakal atas usaha yang kita lakukan. Manusia punya rencana, Allah lah yang menentukan keberhasilan rencana kita. Dakwah itu tidak harus ceramah yang dihadiri banyak orang, dalam pekerjaan pun pastikan ada nilai dakwahnya. Sampaikanlah …walau satu ayat……..

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor
0

On Job Training IK-DD di Kecamatan Rumpin Bogor

Institutkemandirian.org-Rumpin, Bogor. Pagi pukul 09.00 wib pendopo Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan pembukaan kegiatan On Job Training (OJT)  peserta pelatihan teknisi handphone dan fashion Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Kegiatan yang diselenggarakan selama 2 hari, 8 s.d 9 Desember 2012 dibuka oleh Kasi Perekonomian Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor Bapak Ir. Tarwa. “Kegiatan ini harapannya tidak hanya sekedar bhakti sosial saja, Kami ingin bekerjasama dengan Institut Kemandirian dalam pemberdayaan masyarakat Rumpin dengan memanfaatkan gedung Rumah Pintar Kecamatan Rumpin”. kata Bapak Ir. Tarwa yang sebentar lagi akan masuk masa pensiun. Meskipun beliau berasal dari Indramayu, tapi kecintaan terhadap masyarakat Rumpin membuat beliau ingin mendedikasikan dirinya untuk mengabdi sampai pensiun di Kecamatan Rumpin.

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training pelatihan teknisi handphone diikuti oleh 15 orang terdiri dari 13 peserta dan 2 instruktur. Peserta pelatihan fashion dan design yang ikut kegiatan terdiri dari 7 perempuan, 3 laki-laki dan 2 instruktur. Kegiatan ini diwajibkan kepada seluruh peserta pelatihan keterampilan Institut Kemandirian diakhir masa pembelajaran sebagai uji kompetensi dan mental peserta.

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Masyarakat menyambut baik kegiatan OJT, terbukti target 50 handphone yang diservis gratis sampai hari terakhir 75 handphone dapat diperbaiki oleh peserta OJT. Tidak kalah dengan peserta dari pelatihan handphone, peserta OJT dari siswa fashion dan design melakukan bazar murah hasil produksi selama pelatihan. Produk yang dijual adalah bad cover , pakaian anak-anak, gamis atau pakaian dewasa dan mukena. produk yang banyak diminati masyarakat adalah pakaian dewasa (gamis), mukena dan rok. Selebeihnya mereka membeli baju anak dan seprey meskipun tidak banyak karena produk yang dibawa sedikit.

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Insitut Kemandirian berkesempatan dalam kegiatan ini untuk mensosialisasikan program pelatihan yang ada di Institut Kemandirian agar bisa menebar manfaat dari zakat untuk pemberdayaan. Peserta pelatihan tidak dibebankan biaya apa pun sampai lulus dari program pelatihan yang diikuti. Lembaga yang berdiri sejak 2005, telah meluluskan lebih dari 1000 orang ahli yang terserap didunia kerja maupun wirausaha. Semoga kedepan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa bisa membuka cabang pelatihan diseluruh Indonesia untuk membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

Kegiatan On Job Training Peserta Pelatihan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di Kecamatan Rumpin Bogor

291111-1a-Pengajaran-Anda-pemenang
0

Siapakah Sang Pemenang Masa Depan? (Catatan I)

Institutkemandirian.org-Siapakah sang pemenang masa depan itu? Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi atau membuktikan bahwa ia adalah orang yang sukses. Kesuksesan yang sebenarnya tidak instan, yang harus “menikmati” tahap demi tahap prosesnya dan penuh dengan persaingan. Layaknya para atlet yang tidak kenal lelah dan pantang menyerah selalu berusaha menjadi juara pertama. Seperti para pemilik usaha yang bergerak dibidang yang sama, mereka berkompetisi merebut hati konsumen agar perusahaannya terus meraih laba dan menjadi nomor satu diantara perusahaan lain. Dan juga seperti lembaga-lembaga pengelola dana zakat, infak dan sedekah atau ZIS, yang dengan ikhlas dan keistiqomahannya, mereka terus mengangkat harkat dan martabat kaum dhuafa atau mustahik agar bisa menjadi muzakki yang sesuai dengan konsep zakat dalam Al-Qur’an. Dan individu, komunitas atau kelompok masyarakat lainnya yang tetap eksis mengajak orang untuk berbuat ribuan kebaikan.

Lalu..apakah mereka sang pemenang masa depan? Berdasarkan analaisa awal penulis, kata “pemenang” berarti ada 2 makna yang terkandung, yaitu kompetensi dan mental. Kompetensi terkait optimalisasi individu atau kelompok dalam memanfaatkan keilmuan dan pengetahuan. Sedangkan mental berupa sikap-sikap positif; cepat bangkit dan belajar dari kegagalan. keberanian, pantang menyerah, keikhlasan dan kesabaran dalam menjalani proses menuju sukses. Kedua makna diatas tersebut menghasilkan kreatifitas dan inovasi yang dibutuhkan agar sukses bisa segera di raih. Tapi siapa sesungguhnya sang pemenang sejati itu?

Merekalah yang mengabdikan dirinya untuk memberdayakan ummat. Merekalah yang memulai pemberdayaan dari hal-hal yang terkecil, termudah dan saat ini juga. Tidak mempermasalahkan imbalan apa nanti yang akan diterima. Ikhlas dan penuh pengorbanan. Dan terkadang perlu tetesan darah untuk mewujudkan impian orang lain. Merekalah yang sesungguhnya guru bangsa ketika bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan yang akut. Dan mereka itu adalah Anda..ya Anda. Yang saat ini sedang merencanakan bagaimana membangun bisnis yang tidak hanya memikirkan keuntugan semata tetapi juga kesejahteraan karyawan dan keluarganya serta kelestarian lingkungan hidup sekitar. Ya itu Anda..yang tadi memindahkan sebuah batu di jalan yang bisa membahayakan pengguna jalan. Anda lah yang saat ini sedang kampanye pencegahan penyakit berbahaya. Dan Anda yang sedang memberikan pengajaran berkualitas kepada para murid. Dan Anda yang juga melakukan kebaikan-kebaikan dahsyat lainnya. Percayalah bahwa Anda sedang merangkai simpul kebahagiaan. Tidak hanya bagi Anda tetapi juga keluarga, bangsa ini dan lingkungan. Terus lah melakukan langkah-langkah impian Anda. J

Pagi, 4 Desember 2012, @ Institut Kemandirian Dompet Dhuafa (Arlin)

This Campaign has ended. No more pledges can be made.